Harga Bunga Mawar di Pasar Rawa Belong Melonjak Tajam

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Harga bunga mawar di Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, mengalami kenaikan signifikan dalam dua pekan terakhir. Lonjakan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan di tengah tingginya permintaan selama musim kelulusan dan wisuda sekolah.

Salah seorang pedagang bunga di Pasar Rawa Belong, Dani (23), mengatakan kelangkaan terjadi pada hampir seluruh jenis mawar yang paling banyak dicari konsumen. Kondisi tersebut membuat harga di tingkat pedagang mengalami kenaikan tajam.

"Yang lagi langka sekarang mawar karena banyak pemakaian saja. Dari harga normal Rp50 ribu, sekarang bisa jadi Rp120 ribu per ikat di tingkat pedagang," ujar Dani saat ditemui di kiosnya, Indah Florist, Jakarta Barat, Minggu.

Menurut Dani, kenaikan harga di tingkat grosir berdampak langsung pada harga jual kepada konsumen. Saat ini, mawar eceran dijual hingga sekitar Rp170 ribu per ikat, bergantung pada kondisi pasokan setiap hari.

Meski harga melonjak, permintaan masyarakat masih tetap tinggi. Dani menilai bunga mawar menjadi salah satu kebutuhan utama pada momen wisuda sehingga banyak konsumen tetap membeli meskipun harus mengeluarkan biaya lebih besar.

Pedagang lainnya, Gatot, juga menilai lonjakan harga tidak lepas dari tingginya kebutuhan bunga selama musim kelulusan yang tengah berlangsung. Namun, ia memperkirakan kondisi tersebut hanya bersifat sementara.

"Minggu depan kemungkinan, kalau saya prediksi harga bunga mawar akan kembali menurun karena stok sudah berangsur normal," kata Gatot.

Kenaikan harga mawar turut dirasakan pelaku usaha florist yang mengandalkan bunga tersebut sebagai bahan utama rangkaian buket. Mereka harus mencari strategi agar tetap dapat mempertahankan pelanggan tanpa menaikkan harga terlalu tinggi.

Nadia (23), pengrajin bunga hias di kawasan Rawa Belong, mengaku menghadapi tantangan akibat mahalnya harga bahan baku dan terbatasnya stok mawar di pasaran.

Untuk menjaga minat konsumen, Nadia memilih menaikkan harga secara bertahap sambil mengurangi margin keuntungan yang diperoleh.

"Kita naikin, tapi tipis-tipis saja. Untuk buket bunga ukuran standar yang sebelumnya dibanderol Rp150 ribu hingga Rp200 ribuan, sekarang paling dinaikin cuma sekitar Rp5.000 per rangkaian," jelas Nadia.

Ia menjelaskan bahwa keuntungan usaha florist pada kondisi seperti saat ini lebih bergantung pada jumlah penjualan dibandingkan besarnya margin per produk.

Meski menghadapi kenaikan harga bahan baku, Nadia mengaku bersyukur karena musim wisuda mampu meningkatkan jumlah pesanan buket bunga.

Tingginya permintaan tersebut membantu pelaku usaha florist tetap menjaga pendapatan di tengah gejolak harga mawar yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka