Jakarta (KABARIN) - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dapat berdampak pada perubahan perilaku konsumen yang diperkirakan menjadi lebih selektif dalam melakukan pembelian.
“Kalau kondisi tidak berubah dan masih seperti saat ini, daya beli pasti terpengaruh. Konsumen akan lebih selektif membeli barang yang memang dibutuhkan atau kebutuhan sehari-hari,” kata Ketua APPBI DPD DKI Jakarta Mualim Wijoyo di Jakarta, Senin.
Mualim menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor perdagangan internasional, tetapi juga dapat memengaruhi harga barang, biaya hidup, hingga keputusan investasi masyarakat.
Dari sisi operasional, ia menyebut sejumlah tenant pusat perbelanjaan berpotensi terdampak karena masih bergantung pada bahan baku atau komponen impor.
“Secara operasional tentunya berpengaruh, khususnya untuk kebutuhan tertentu yang masih harus diimpor. Namun, biasanya pusat perbelanjaan maupun tenan sudah memiliki perencanaan dan kesepakatan sebelumnya,” ucapnya.
Meski demikian, APPBI DKI Jakarta menyebut hingga saat ini belum terlihat kenaikan harga yang signifikan di pusat perbelanjaan, karena para tenant masih berhati-hati dalam menetapkan harga jual.
“Sejauh ini belum terlalu dirasakan kenaikan produk secara signifikan karena tenan mal sangat hati-hati dalam menentukan harga. Namun, ke depan tentu ada potensi kenaikan, hanya saja kami belum memiliki data terkait besarannya,” kata Mualim.
Saat ini, terdapat sekitar 100 pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta yang tergabung dalam APPBI DKI Jakarta.
Sementara itu, berdasarkan data perdagangan Kamis (11/6), nilai tukar rupiah ditutup melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.989 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.944 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut pelemahan rupiah dipicu meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sumber: ANTARA