Jakarta (KABARIN) - Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim meminta pemerintah, khususnya sektor energi, terus memantau perkembangan harga minyak mentah dunia setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ia juga meminta pemerintah menyesuaikan kebijakan energi nasional, termasuk penetapan harga bahan bakar minyak (BBM), berdasarkan dinamika harga minyak global tersebut.
“Apabila tren harga minyak turun dan faktor-faktor pembentuk harga BBM memungkinkan, maka masyarakat juga berhak menikmati penurunan harga BBM di dalam negeri,” ujar Rivqy dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Namun, ia menegaskan bahwa jika harga BBM belum dapat diturunkan meski harga minyak global melemah, pemerintah perlu memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik.
“Kalau masih ada faktor negatif yang membuat ruang penurunan harga BBM terbatas, silakan disampaikan secara terbuka. Namun, seluruh kebijakan harus tetap berada dalam koridor yang berkeadilan dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas,” katanya.
Rivqy juga mendorong percepatan langkah strategis menuju kemandirian energi nasional, termasuk peningkatan produksi migas dalam negeri, optimalisasi eksplorasi dan eksploitasi sumber daya energi, serta penguatan investasi sektor energi.
Menurutnya, dinamika global sangat memengaruhi sektor migas di Indonesia sehingga ketergantungan terhadap pasar internasional perlu dikurangi.
“Perkembangan di belahan dunia lain, mulai dari konflik, ketegangan politik, hingga kesepakatan antarnegara, bisa langsung berdampak pada harga energi yang dirasakan masyarakat Indonesia. Ini menunjukkan bahwa sektor migas kita masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global,” ujarnya.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah masih mencermati dampak MoU perdamaian AS-Iran terhadap kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Data ANTARA menunjukkan dalam sepekan terakhir harga minyak dunia cenderung melemah, dengan Brent turun dari atas 90 dolar AS per barel menjadi di bawah 80 dolar AS per barel seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Sumber: ANTARA