Peluang untuk terwujudnya perdamaian jangka panjang semakin dekat
Jakarta (KABARIN) - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz. Meski begitu, peluang tercapainya perdamaian antara kedua negara dinilai masih cukup besar.
Pengamat isu Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Muhammad Syaroni Rofii, menilai proses negosiasi yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa jalan menuju penyelesaian konflik masih terbuka.
"Peluang untuk terwujudnya perdamaian jangka panjang semakin dekat, mengingat tim negosiator kedua negara terus bekerja di Swiss," kata Syaroni saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Menurut dia, salah satu faktor yang menjaga peluang perdamaian tetap hidup adalah adanya nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara. Kesepakatan tersebut berlaku selama 60 hari dan memberikan ruang bagi Washington maupun Teheran untuk mengalihkan ketegangan dari medan konflik ke meja perundingan.
Syaroni juga menyoroti kehadiran Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam proses diplomasi yang sedang berjalan. Kehadiran tokoh penting dari kedua pihak itu dianggap sebagai sinyal kuat adanya komitmen politik untuk mencari jalan damai.
Meski demikian, upaya menuju kesepakatan final masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satu faktor utama adalah situasi keamanan di kawasan yang belum sepenuhnya stabil.
Menurut Syaroni, serangan yang masih berlangsung di Lebanon menjadi salah satu ganjalan dalam proses negosiasi. Iran disebut menginginkan Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya untuk menekan Israel agar menghentikan operasi militernya.
"Faktor ini saya kira menjadi salah satu hambatan. Selebihnya, menyangkut aspek teknis," ucapnya.
Terkait penutupan kembali Selat Hormuz, Syaroni menilai langkah tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara. Ia melihat kondisi itu sebagai bagian dari dinamika negosiasi yang masih berlangsung antara kedua negara.
"Negara-negara Teluk dalam posisi mendukung tercapainya kesepakatan dan hal itu dipertegas dengan keberadaan Qatar hadir langsung sebagai mediator di Swiss," ucapnya.
Menurut dia, Iran juga ingin memastikan komitmen Amerika Serikat dalam menjalankan poin-poin yang telah disepakati sebelumnya. Dalam nota kesepahaman yang berisi 14 poin tersebut, pembukaan kembali Selat Hormuz disebut menjadi bagian dari paket implementasi gencatan senjata yang lebih luas.
Kesepakatan itu mencakup penghentian konflik di berbagai wilayah, termasuk Lebanon. Karena itu, selama serangan masih berlangsung, Iran kemungkinan akan terus menggunakan isu Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi diplomatiknya.
"Selama Israel masih menyerang Lebanon, kelihatannya Iran akan menggunakan pendekatan tersebut untuk sinyal diplomatik," tambahnya.
Selain membahas situasi di Timur Tengah, Syaroni juga menyoroti pentingnya kerja sama regional bagi negara-negara Asia Tenggara. Menurutnya, ketegangan di Selat Hormuz menjadi pelajaran berharga bagi kawasan ASEAN dalam menghadapi potensi krisis global di masa depan.
"Pelajaran dari situasi di Selat Hormuz adalah perlunya koordinasi kawasan untuk mencari solusi secara bersama-sama. Soliditas kawasan menjadi pilar penting bagi ketahanan negara-negara anggota," ujar Syaroni.
Sumber: ANTARA