Jakarta (KABARIN) - Pandangan moral seseorang dapat mengalami perubahan sepanjang hidupnya, dan hal itu tidak selalu disebabkan oleh kepentingan pribadi atau sikap yang tidak konsisten, melainkan karena hadirnya alasan serta pertimbangan baru yang dianggap lebih relevan, menurut psikolog Audun Dahl dari Cornell University.
Melalui tulisannya yang dikutip dari Psychology Today pada Selasa (23/6) dalam buku berjudul Between Fixed and Fickle: Why Our Moral Views Keep Changing, Dahl menjelaskan bahwa banyak orang cenderung meyakini pandangan moral mereka sebagai sesuatu yang stabil dan tidak berubah.
Namun ketika menghadapi orang lain dengan pandangan berbeda, perbedaan itu kerap dianggap muncul karena faktor seperti kepentingan pribadi, emosi, atau cara berpikir yang keliru.
Dahl menyebut pola tersebut sebagai konsep “fixed and fickle”, yakni kecenderungan menganggap pandangan moral sendiri sebagai benar dan konsisten, sementara pandangan orang lain dinilai lebih mudah berubah dan dipengaruhi faktor nonmoral.
Menurutnya, cara pandang ini tidak sepenuhnya tepat karena jarang diterapkan secara reflektif terhadap diri sendiri.
Sebagian besar individu, lanjut Dahl, tidak memandang perubahan keyakinan moral mereka dari masa kecil hingga dewasa sebagai akibat dari kesalahan berpikir atau dorongan kepentingan pribadi.
Sebaliknya, perubahan itu justru dianggap sebagai proses pendewasaan dan peningkatan pemahaman moral.
Dahl menilai perubahan pandangan moral umumnya terjadi karena seseorang menemukan dasar pemikiran baru yang dianggap lebih kuat dan masuk akal.
Ia mengelompokkan ada tiga faktor utama yang mendorong terjadinya perubahan tersebut.
Pertama, munculnya kepedulian moral baru, misalnya keyakinan bahwa seluruh manusia, termasuk generasi mendatang, memiliki hak yang setara.
Kedua, terbentuknya keterkaitan baru antara nilai moral yang sudah dimiliki dengan isu yang sebelumnya tidak diperhatikan. Contohnya, kesadaran bahwa penggunaan bahan bakar fosil dapat berdampak buruk bagi generasi masa depan akibat perubahan iklim.
Ketiga, perubahan dalam cara seseorang menimbang kepentingan moral yang saling bertentangan.
Dalam contoh ini, seseorang dapat menilai bahwa pengorbanan kecil seperti mengurangi perjalanan udara atau konsumsi daging layak dilakukan demi melindungi lingkungan jangka panjang.
Dahl menegaskan bahwa memahami alasan di balik perubahan moral berbeda dengan menilai apakah perubahan tersebut benar atau salah.
“Ilmu pengetahuan dapat membantu menjelaskan mengapa pandangan moral berubah, tetapi tidak dapat menentukan bagaimana pandangan moral seharusnya berubah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keingintahuan terhadap alasan di balik perbedaan pandangan dapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik, dibanding langsung menganggapnya sebagai ketidakkonsistenan atau kepentingan pribadi.
Sumber: Psychology Today