Tokyo (KABARIN) - Pemerintah Jepang kembali melayangkan protes kepada China setelah menemukan adanya unit pengeboran lepas pantai bergerak yang dipasang di Laut China Timur. Fasilitas tersebut diduga akan digunakan untuk mengeksplorasi lapangan gas baru di kawasan yang masih menjadi perdebatan kedua negara.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, pada Rabu mengatakan bahwa pemerintah telah mengonfirmasi keberadaan unit pengeboran tersebut. Menurutnya, fasilitas itu ditambatkan dan dipasang di sisi barat garis tengah yang memisahkan wilayah Jepang dan China di Laut China Timur.
Sebelumnya, Penjaga Pantai Jepang pada Senin (22/6) juga telah mengeluarkan peringatan navigasi bagi kapal-kapal yang beroperasi di sekitar lokasi pemasangan unit pengeboran tersebut.
Kihara menjelaskan bahwa hingga saat ini batas zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan landas kontinen antara Jepang dan China di kawasan tersebut masih belum ditetapkan secara resmi.
“China terus melakukan kegiatan pengembangan secara sepihak meskipun Jepang berulang kali menyampaikan protes. Hal ini sangat disesalkan,” kata Kihara dalam konferensi pers rutin di Tokyo.
Jepang menilai aktivitas tersebut berpotensi memperumit situasi di kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan kedua negara.
Karena itu, Kihara mendesak Beijing untuk kembali melanjutkan perundingan terkait implementasi kesepakatan tahun 2008 mengenai pengembangan sumber daya bersama di Laut China Timur.
Di sisi lain, China diketahui telah membangun sejumlah fasilitas pengeboran di wilayahnya yang berada di sisi barat garis tengah pemisah zona ekonomi eksklusif kedua negara.
Sebagai respons atas perkembangan terbaru ini, Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan telah menyampaikan protes resmi kepada China melalui jalur diplomatik pada Senin lalu.
Kasus ini menjadi episode terbaru dalam dinamika hubungan Jepang dan China di Laut China Timur, wilayah yang kaya sumber daya energi dan kerap menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.
Sumber: KYO