pembagian Betawi menjadi tengah, pinggir, dan pesisir sebenarnya tidak muncul sejak awal
Jakarta (KABARIN) - Tak terasa Jakarta telah memasuki usia ke-499 tahun. Hanya tinggal satu tahun lagi menuju tonggak bersejarah lima abad kota yang diperingati setiap 22 Juni itu.
Di balik gemerlap ibu kota, terdapat masyarakat Betawi yang dikenal sebagai penduduk asli Jakarta. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa budaya Betawi sebenarnya tidak bersifat tunggal.
Betawi merupakan hasil percampuran berbagai etnis dan budaya yang berlangsung selama ratusan tahun, mulai dari Melayu, Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa, hingga Eropa.
Proses asimilasi tersebut melahirkan beragam karakter budaya yang berkembang sesuai dengan kondisi geografis dan sejarah wilayahnya.
Masing-masing memiliki ciri khas, baik dari segi bahasa, kesenian, tradisi, maupun pola kehidupan masyarakatnya.
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi M Rifqi atau akrab disapa Eki Pitung menjelaskan bahwa masyarakat Betawi secara umum dikenal dalam tiga kelompok, yakni Betawi tengah, pinggir, dan pesisir.
Menurut Eki Pitung, identitas kaum Betawi mulai dipopulerkan secara intelektual pada masa menjelang Sumpah Pemuda 1928 oleh tokoh Betawi Muhammad Husni Thamrin.
Namun akar sejarah masyarakat Betawi sesungguhnya jauh lebih panjang, bahkan dapat ditelusuri hingga masa Sunda Kelapa pada abad ke-16.
Ketika Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada 1527, wilayah tersebut menjadi tempat pertemuan berbagai kelompok masyarakat dari Aceh, Banten, Cirebon hingga para pedagang dari berbagai daerah dan bangsa.
Proses pertemuan itu melahirkan akulturasi budaya yang kemudian membentuk identitas Betawi. Pengaruh Islam dan budaya Melayu menjadi salah satu unsur yang paling kuat dalam perkembangan masyarakat Betawi.
Selanjutnya, ketika VOC menguasai wilayah tersebut dan mengubah namanya menjadi Batavia, pengaruh Eropa ikut memperkaya budaya masyarakat setempat.
Dari pengaruh Eropa, lahir kebudayaan Betawi yang dikenal saat ini sebagai hasil percampuran berbagai unsur budaya selama ratusan tahun.
Meski demikian, pembagian Betawi menjadi tengah, pinggir, dan pesisir sebenarnya tidak muncul sejak awal.
Bergeser ke pinggiran
Istilah tersebut berkembang seiring perubahan sosial dan pembangunan Jakarta terutama saat Orde Baru. Tepatnya ketika masyarakat Betawi mulai bergeser ke wilayah pinggiran akibat perkembangan kota yang semakin pesat.
Betawi tengah identik dengan kawasan-kawasan lama Jakarta seperti Tanah Abang, Kampung Melayu, Jatinegara, hingga Menteng. Wilayah ini memiliki pengaruh budaya Melayu yang cukup kuat, terutama dalam bahasa, tradisi keagamaan, hingga busana.
Dialek yang digunakan masyarakat Betawi tengah dikenal lebih dekat dengan bahasa Melayu seperti "ente". Selain itu, kawasan seperti Tanah Abang pada masa lalu juga dikenal sebagai pusat pendidikan agama dan aktivitas pesantren.
Sementara, Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra mengatakan Betawi tengah kerap menjadi representasi budaya Betawi yang paling dikenal masyarakat luas karena berkembang di kawasan pusat kota yang sejak lama menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan pembangunan Jakarta.
Menurut dia, eksistensi Betawi tengah semakin kuat seiring munculnya berbagai seni populer beserta para senimannya yang dikenal publik.
Kondisi tersebut didukung pembangunan infrastruktur, seperti gedung pemerintahan, kawasan komersial, jaringan jalan, hingga moda transportasi yang membuat budaya Betawi tengah lebih mudah terekspos dan diakses masyarakat.
"Dari Betawi tengah bermunculan seni populer dengan senimannya yang mencorong, diikuti pembangunan infrastruktur seperti lembaga pemerintah, bangunan komersial, jalan dan moda transportasi, lalu diperkuat dengan gaya hidup populis," kata Yahya.
Ia menilai faktor-faktor tersebut membuat Betawi tengah lebih sering muncul dalam ruang publik dibandingkan wilayah budaya Betawi lainnya, sehingga lebih melekat dalam pemahaman masyarakat tentang identitas budaya Betawi secara umum.
Betawi pinggir
Berbeda dengan Betawi tengah, menurut Eki Pitung, Betawi pinggir berkembang di wilayah-wilayah yang kini berada di sekitar Jakarta seperti Tangerang, Ciledug, Depok, dan Bekasi.
Karena berinteraksi dengan masyarakat sekitar, dialek Betawi pinggir mendapat pengaruh cukup kuat dari bahasa Sunda. Tidak sedikit masyarakat yang mengenal istilah Betawi "ora" atau dialek yang kerap diasosiasikan dengan tokoh komedian Mandra.
Pengaruh tersebut tidak hanya terlihat dari bahasa, tetapi juga dari busana dan tradisi sehari-hari. Jika Betawi tengah identik dengan baju koko dan cukin, masyarakat Betawi pinggir lebih akrab dengan pakaian pangsi dan budaya jawara yang berkembang di wilayah penyangga Jakarta.
Sementara itu, Betawi pesisir berkembang di kawasan pantai utara Jakarta seperti Marunda dan wilayah pesisir lainnya.
Sebagai masyarakat yang kehidupannya dekat dengan laut, aktivitas nelayan dan perdagangan hasil laut menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Secara geografis, wilayah ini juga memiliki kedekatan dengan Banten sehingga dialeknya mendapat pengaruh dari bahasa Sunda, meski tetap mempertahankan ciri khas Betawi.
Meski memiliki perbedaan dialek dan karakter sosial, ketiga kelompok tersebut tetap memiliki akar budaya yang sama.
Kesamaan itu dapat ditemukan dalam kuliner, tradisi keluarga, hingga berbagai kesenian yang masih hidup di tengah masyarakat.
Kuliner seperti gabus pucung, jengkol, maupun berbagai hidangan khas Betawi lainnya tetap menjadi bagian dari identitas bersama.
Masa depan Betawi
Memasuki usia Jakarta yang hampir mencapai lima abad, keberadaan budaya Betawi menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan visi Jakarta sebagai kota global dan berbudaya.
Namun demikian, Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi Eki Pitung menilai pelestarian budaya Betawi masih menghadapi sejumlah tantangan.
Menurut dia, perhatian terhadap budaya Betawi selama ini masih banyak terlihat dalam bentuk seremoni dan perayaan.
"Penguatan sumber daya manusia, pendidikan, hingga keberlangsungan sanggar seni dan komunitas budaya masih memerlukan perhatian lebih besar," kata Eki.
Ia mencontohkan banyak kelompok seni tradisional yang lahir dari tokoh-tokoh legendaris Betawi seperti Benyamin Sueb, Haji Bokir, maupun Mpok Nori yang kini menghadapi tantangan regenerasi dan keberlanjutan.
"Saya harap kepada pemerintah setidaknya ada beasiswa di kampus bagi anak muda Betawi sebagai peningkatan sumber daya manusia (SDM)," kata Eki.
Selain itu, masyarakat Betawi juga harus beradaptasi dengan persaingan di kota yang terus berkembang dan menjadi tujuan urbanisasi dari berbagai daerah.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI, jumlah orang Betawi di Jakarta mencapai sekitar 2,7 juta jiwa atau sekitar 20 hingga 30 persen dari total penduduk Jakarta pada 2025.
Karena itu, menurut Eki, pembangunan tidak hanya perlu berfokus pada kawasan pusat kota, tetapi juga harus menyentuh wilayah-wilayah yang menjadi basis masyarakat Betawi pinggir seperti Cakung, Marunda, Tanjung Priok, dan Condet.
Kemudian, dia menyoroti bahwa generasi muda juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Betawi.
Pelestarian budaya, menurut dia, tidak harus dilakukan dengan cara-cara lama namun bisa memanfaatkan media sosial yang dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Betawi kepada generasi baru.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penyusunan buku muatan lokal tentang budaya Betawi untuk siswa sekolah dasar dan sekolah menengah yang telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Menjelang usia Jakarta yang ke-500 tahun, keberadaan Betawi bukan sekadar bagian dari sejarah masa lalu.
Tiga wajah Betawi diharapkan menjadi pengingat bahwa Jakarta terus beradaptasi dan berkembang. Tidak hanya pembangunan infrastruktur tetapi juga oleh warisan budaya yang membentuk jati dirinya.
Sumber: ANTARA