Jakarta (KABARIN) - Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri mengungkapkan bahwa ketidakpercayaan menjadi tantangan terbesar dalam mewujudkan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
"Tantangan terbesar adalah adanya ketidakpercayaan antara Amerika Serikat dan Iran. Kita berbicara mengenai dua negara yang sudah lama tidak berkomunikasi dan tak memiliki hubungan langsung satu sama lain," katanya kepada wartawan di Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta, Jumat (26/6).
Menurut Chaudhri, Pakistan yang berperan sebagai mediator memandang penting upaya menjembatani kesenjangan kepercayaan serta membawa AS dan Iran kembali ke meja perundingan.
Selain persoalan ketidakpercayaan, Chaudhri mengatakan upaya perdamaian juga menghadapi tantangan dari pihak-pihak yang berupaya menggagalkan proses tersebut. Di samping itu, membangun konsensus juga menjadi tantangan karena tidak hanya melibatkan AS dan Iran, tetapi juga negara-negara di kawasan.
"Seluruh negara di kawasan juga merupakan pemangku kepentingan utama dalam proses perdamaian ini. Kami berhasil menjalankan seluruh peran tersebut. Kami berhasil mengajak seluruh negara utama di kawasan untuk terlibat," ujarnya.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Chaudhri menegaskan Pakistan tetap optimistis bahwa keterlibatan berkelanjutan dan diplomasi yang konsisten akan mampu mewujudkan perdamaian di kawasan.
Terkait penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran, Chaudhri menyebut Pakistan memandang langkah tersebut sebagai perkembangan yang sangat positif dan menggembirakan.
Ia menambahkan Pakistan juga turut menandatangani dokumen tersebut sebagai mediator.
Chaudhri menegaskan pemerintahnya akan terus bekerja sama dengan AS dan Iran guna memastikan MoU tersebut diimplementasikan secara penuh sesuai isi dan tujuannya demi tercapainya perdamaian di kawasan.
"Hal itu bukan hanya demi kepentingan kedua negara tersebut, tetapi juga demi kepentingan kawasan dan dunia secara lebih luas," katanya.
Sumber: ANTARA