BPS: Mayoritas Tenaga Kerja Sektor Ekonomi Kreatif Didominasi Perempuan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan tenaga kerja yang terserap di sektor ekonomi kreatif masih didominasi perempuan dengan proporsi rata-rata mencapai sekitar 58 persen.

“Satu keunggulan dari sektor ekonomi kreatif ini adalah dia tumbuh cepat tetapi inklusif jadi tidak hanya tumbuh tetapi juga memberikan spillover effect (efek limpahan) terhadap penyerapan lapangan pekerjaan yang besar dan juga dirasakan oleh banyak orang,” kata Amalia dalam konferensi pers Sensus Ekonomi 2026 Sektor Ekonomi Kreatif di Jakarta, Senin.

Berdasarkan data BPS, hingga 2025 sektor ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta tenaga kerja atau sekitar 18,7 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.

Amalia menyebut sekitar 58,4 persen pekerja di sektor ekonomi kreatif merupakan perempuan, sedangkan sekitar 41 persen lainnya adalah laki-laki. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar dalam mendorong pemberdayaan perempuan sekaligus berkontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan.

Ia menambahkan, sebaran tenaga kerja sektor ekonomi kreatif masih terkonsentrasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Ketiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 57,81 persen dari total tenaga kerja ekonomi kreatif nasional.

Selain itu, sekitar 70 hingga 75 persen pekerja sektor ekonomi kreatif berada di wilayah perkotaan, sedangkan sekitar 25 persen bekerja di pedesaan.

Amalia menjelaskan, berdasarkan subsektor, penyerapan tenaga kerja terbesar berasal dari bidang kuliner, fesyen, dan kriya. Ketiga subsektor tersebut juga menjadi penyumbang utama nilai ekspor produk ekonomi kreatif yang mencapai 2,61 miliar dolar AS pada pertengahan 2026.

“Yang menarik adalah 36,63 persen orang yang bekerja di sektor ekraf adalah generasi milenial, dan 27,94 persen adalah generasi X, dan juga generasi Z 26,40 persen,” jelas Amalia.

Menurut dia, sektor ekonomi kreatif mencatat pertumbuhan rata-rata sebesar 6,86 persen hingga 2025 atau sekitar 1,7 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah subsektor, seperti kuliner, televisi dan radio, fesyen, serta pengembang aplikasi dan gim.

Amalia juga mengajak para pelaku usaha ekonomi kreatif untuk berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026 sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, data yang terkumpul akan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan untuk meningkatkan investasi, memperluas lapangan kerja, mengembangkan kekayaan intelektual, serta memperkuat daya saing nasional.

“Kualitas data akan sangat menentukan kualitas kebijakan dan efektivitas program pembangunan ekonomi kreatif di depan, sebagai landasan komprehensif dalam penyusunan kebijakan yang adaptif dan berdampak,” kata Amalia.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka