Paris (KABARIN) - Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis pada Mei 2026 membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat. Data terbaru menunjukkan sekitar 300 orang meninggal selama periode cuaca panas tersebut, dengan kelompok lansia menjadi yang paling terdampak.
Berdasarkan laporan otoritas kesehatan Prancis, warga berusia 75 tahun ke atas mencatat sekitar 230 kasus kematian. Angka itu meningkat sekitar 15 persen dibandingkan jumlah kematian yang diperkirakan pada kelompok usia tersebut dalam kondisi normal.
Gelombang panas terjadi di sejumlah wilayah yang meliputi Brittany, Ile-de-France, Normandia, Nouvelle-Aquitaine, dan Pays de la Loire. Seluruh kawasan tersebut berada di bawah status siaga oranye yang dikeluarkan oleh Meteo-France pada 26 hingga 30 Mei 2026.
Selama lima hari berlangsungnya gelombang panas, angka kematian akibat semua penyebab atau all-cause mortality diperkirakan mencapai 13,9 persen di atas tingkat normal. Kondisi itu menyebabkan sekitar 300 kematian berlebih selama periode tersebut.
Otoritas menjelaskan bahwa estimasi ini dirilis sekitar tiga pekan setelah gelombang panas berakhir. Perhitungan tersebut didasarkan pada data awal angka kematian akibat semua penyebab yang tersedia hingga 23 Juni, sehingga jumlahnya masih berpotensi mengalami perubahan seiring pembaruan data.
Menurut otoritas kesehatan, salah satu faktor yang memperburuk dampak gelombang panas kali ini adalah waktu kejadiannya yang datang lebih awal dari biasanya. Suhu tinggi melanda ketika sebagian besar masyarakat belum sempat beradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrem, sementara aktivitas sehari-hari, termasuk sekolah dan tempat kerja, masih berjalan normal.
Mereka juga mengingatkan bahwa gelombang panas yang semakin sering terjadi dan memiliki intensitas lebih tinggi akibat perubahan iklim dapat memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan yang harus diantisipasi karena berpotensi meningkatkan risiko penyakit hingga kematian, terutama pada kelompok rentan seperti lansia.
Sumber: Xinhua