Teheran (KABARIN) - Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya belum akan memulai pembahasan mengenai kesepakatan final dengan Amerika Serikat sebelum sejumlah poin penting dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang telah disepakati kedua negara benar-benar dijalankan.
Pernyataan itu disampaikan Qalibaf, yang juga memimpin tim negosiasi Iran, dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Iran IRIB TV saat menjelaskan perkembangan implementasi MoU perdamaian antara Teheran dan Washington.
Menurut Qalibaf, kunjungan delegasi Iran ke Swiss baru-baru ini bertujuan menjalankan sejumlah ketentuan awal dalam MoU.
Beberapa poin yang dimaksud meliputi penghentian konflik di berbagai kawasan termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut oleh Amerika Serikat, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, penerbitan pengecualian atau waiver dari AS untuk ekspor minyak mentah Iran, serta pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Qalibaf menegaskan seluruh poin pendahuluan tersebut harus direalisasikan terlebih dahulu sebelum pembahasan tahap berikutnya dimulai.
Ia juga mengungkapkan Iran, Amerika Serikat, dan Lebanon telah sepakat membentuk komite bersama untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata, memastikan konflik di Lebanon berakhir, serta menjaga kedaulatan negara tersebut.
Menurutnya, Iran dan Amerika Serikat telah menunjuk masing-masing perwakilan untuk bergabung dalam komite tersebut.
Qalibaf menambahkan Iran tetap mengedepankan jalur diplomasi, tetapi juga siap merespons dengan kekuatan apabila situasi mengharuskannya.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman mengenai penghentian konflik pada 18 Juni 2026.
Empat hari kemudian, tepatnya pada 22 Juni, kedua negara memulai perundingan teknis di Swiss setelah sebelumnya menggelar konsultasi tingkat tinggi yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
Sumber: Xinhua