Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Terburuk di Dunia pada Kamis Pagi

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kualitas udara di Jakarta pada Kamis pagi berada dalam kategori tidak sehat dan menempatkan ibu kota sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir hingga pukul 05.50 WIB, indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) Jakarta tercatat sebesar 174. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dengan konsentrasi polutan PM2.5 mencapai 73 mikrogram per meter kubik.

Pada tingkat tersebut, kualitas udara dinilai dapat berdampak buruk bagi kelompok sensitif, termasuk manusia dan hewan yang rentan. Selain itu, kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi tumbuhan serta menurunkan kualitas lingkungan.

Seiring kondisi tersebut, IQAir mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan masker serta menutup jendela rumah guna mengurangi paparan udara yang tercemar.

Sebagai acuan, kategori baik berada pada rentang AQI 0–50, yang berarti tidak menimbulkan dampak terhadap kesehatan manusia maupun hewan serta tidak memengaruhi tumbuhan dan lingkungan.

Sementara itu, kategori sedang berada pada rentang AQI 51–100. Pada tingkat ini kualitas udara umumnya masih aman bagi manusia dan hewan, meski dapat berdampak pada tumbuhan yang sensitif.

Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang AQI 200–299, yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi sebagian kelompok masyarakat. Sementara kategori berbahaya berada pada rentang AQI 300–500 dan berpotensi menyebabkan dampak kesehatan serius bagi seluruh populasi.

Selain Jakarta, kota-kota dengan kualitas udara terburuk lainnya pada Kamis pagi adalah Chengdu, China dengan AQI 156, Kinshasa, Republik Demokratik Kongo (154), Addis Ababa, Ethiopia (149), serta Kampala, Uganda (142).

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah meluncurkan platform pemantauan kualitas udara terintegrasi yang didukung 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.

Platform tersebut menyajikan data kualitas udara dari SPKU milik DLH DKI Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta Vital Strategies. Integrasi tersebut diharapkan dapat memberikan informasi kualitas udara yang lebih akurat dan sesuai dengan standar nasional.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka