Mentan Ajak 150 Mahasiswa Papua untuk Gerakan Kembali Berkebun

waktu baca 4 menit

Gerakan ini diharapkan melahirkan generasi muda Papua yang mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian sekaligus menciptakan lapangan kerja di daerahnya

Jakarta (KABARIN) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menggandeng 150 mahasiswa Papua untuk melaksanakan Gerakan Kembali Berkebun sebagai upaya membangun ekonomi masyarakat dari tanah sendiri melalui pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal.

"Gerakan ini diharapkan melahirkan generasi muda Papua yang mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian sekaligus menciptakan lapangan kerja di daerahnya," kata Mentan Amran saat berdialog dengan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di Jakarta, Kamis.

Pertemuan yang dilakukan di kediaman Mentan itu dihadiri mahasiswa dari berbagai wilayah, meliputi Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya dan Papua Induk.

Dalam dialog tersebut, para mahasiswa memaparkan beragam potensi komoditas unggulan daerah, mulai dari ubi jalar, sagu, pala, kakao, kopi, hingga peternakan.

Menanggapi hal itu, Mentan menegaskan pembangunan pertanian Papua harus bertumpu pada kekuatan komoditas lokal dan pemanfaatan lahan yang dimiliki masyarakat.

“Kita harus membangun ekonomi dari desa. Mahasiswa seperti kalian adalah putra-putri terbaik Tanah Papua. Kalian yang bisa mengangkat ekonomi Papua karena memiliki pengetahuan, kecerdasan dan lahan yang harus dibangun,” ujarnya.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Mentan langsung memberikan dukungan kepada salah seorang mahasiswa Papua, Anton, yang telah memiliki lahan pertanian seluas 7 hektare sekaligus membina kelompok tani di kampung halamannya.

Melihat keseriusan tersebut, Mentan Amran memutuskan menambah dukungan pengembangan lahan seluas 5 hektare.

“Yang penting dikerjakan dengan baik dan bisa menjadi contoh bagi anak-anak muda Papua lainnya,” ujarnya.

Menurut dia, keterlibatan mahasiswa menjadi strategi penting dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Papua. Pemerintah ingin generasi muda Papua tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja melalui pertanian modern berbasis potensi daerah.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa yang masih memiliki lahan keluarga untuk mulai mengelola sejak masih menempuh pendidikan.

“Saya ingin membangun Gerakan Pemuda Tani Papua. Kalau adik-adik mahasiswa punya lahan di kampung, mari kita tanam mulai sekarang. Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai,” ucap Amran.

Ia mencontohkan komoditas perkebunan seperti kopi dan pala yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurutnya, dengan memanfaatkan lahan keluarga sebagai modal awal, mahasiswa dapat membangun usaha pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

“Kalau ada mahasiswa punya 2 hektare lahan dan ditanami kopi atau pala, begitu selesai kuliah hasilnya sudah bisa menjadi sumber pendapatan. Kita harus membangun ekonomi dari desa, membangun ekonomi dari tanah kita sendiri,” tegasnya.

Mentan juga memutuskan menambah bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda Papua Pegunungan yang sebelumnya telah membuka lahan kopi seluas 48 hektare.

Selain itu, pemerintah menyiapkan bantuan alat pertanian seperti linggis, sekop, parang, dan peralatan lainnya untuk mendukung pengembangan pangan lokal, khususnya ubi jalar di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.

“Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kita siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal,” kata Mentan Amran.

Salah seorang peserta dialog, Ronaldo Jakub Inesta, mahasiswa asal Papua Barat Daya, menyampaikan apresiasi atas respons cepat Mentan Amran terhadap aspirasi mahasiswa.

Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang penting bagi mahasiswa Papua untuk menyampaikan langsung potensi daerah kepada pemerintah.

“Apa yang kami sampaikan langsung dicatat dan ditindaklanjuti. Kesempatan seperti ini sangat baik karena jarang sekali mahasiswa bisa berdialog langsung dengan seorang menteri," kata Ronaldo.

Sementara itu, Ketua Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai menilai gerakan itu bukan sekadar untuk ekonomi, tetapi upaya menghidupkan kembali identitas budaya masyarakat Papua yang selama ini memiliki keterikatan kuat dengan tanah adat dan komoditas lokal.

“Kita ingin menghidupkan kembali komoditas-komoditas lokal yang menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Papua, sekaligus menjadikan tanah adat sebagai sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan masa depan,” katanya.

Velix menambahkan, setiap wilayah Papua memiliki keunggulan komoditas yang berbeda, mulai dari ubi jalar di kawasan pegunungan, sagu di wilayah rawa, hingga kopi, kakao, pala dan berbagai komoditas perkebunan lainnya.

Karena itu, pembangunan pertanian berbasis potensi lokal menjadi strategi yang tepat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka