3 Warga Palestina Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza Rabu Kemarin

waktu baca 2 menit

Gaza (KABARIN) - Tiga warga Palestina tewas akibat penembakan Israel di Jalur Gaza, Rabu (1/7), sementara para pejabat Palestina memperingatkan kian memburuknya situasi kemanusiaan di wilayah kantong pesisir tersebut.

Sumber-sumber setempat dan saksi mata melaporkan bahwa sebuah pesawat tempur Israel menargetkan kerumunan warga Palestina di wilayah Sheikh Radwan, bagian barat laut Gaza City, hingga menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya.

Dalam serangan lainnya, seorang pemuda Palestina tewas akibat serangan udara Israel yang menargetkan sebuah kendaraan sipil di pusat Gaza City, ungkap juru bicara Badan Pertahanan Sipil di Gaza Mahmoud Basal.

Sementara itu, direktur bantuan medis di Jalur Gaza Bassam Zaqout memperingatkan terjadinya kolaps total pada sistem lingkungan dan kesehatan di wilayah kantong tersebut seiring makin intensifnya gelombang panas musim panas. Dalam sebuah pernyataan pers, Zaqout menyebutkan tenda-tenda para pengungsi telah berubah menjadi semacam "oven manusia" dan tempat berkembang biaknya penyakit akibat krisis air yang parah serta akumulasi sampah.

Secara terpisah, direktur jenderal Unit Manajemen Proyek di Otoritas Air Palestina Saadi Ali menggambarkan situasi air saat ini di Jalur Gaza sebagai "katastropik".

Dalam pernyataannya kepada stasiun radio resmi Voice of Palestine, Ali mengatakan berkurangnya pasokan air berdampak pada seluruh wilayah Gaza, dan kelompok yang paling menderita adalah para pengungsi di kamp-kamp dan tenda-tenda, di mana sekitar 80 persen di antaranya tidak memiliki akses yang memadai untuk mendapatkan pasokan air.

Ali mendesak komunitas internasional dan negara-negara mediator untuk segera melakukan intervensi, mendesak agar pintu-pintu perlintasan dibuka kembali guna memungkinkan masuknya pasokan penting bagi sektor air.

Perkembangan-perkembangan ini terjadi di tengah ketegangan yang terus berlanjut di lapangan meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, dengan Hamas dan Israel saling tuduh melakukan pelanggaran.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka