Jakarta (KABARIN) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo angkat suara menanggapi kritik soal penanganan banjir di Jakarta yang dinilai belum optimal.
Sorotan itu datang dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Walhi Jakarta yang menilai Pramono terlalu fokus menyalahkan faktor hujan ekstrem.
Menanggapi hal tersebut, Pramono menegaskan bahwa langkah modifikasi cuaca yang dilakukan pemerintah provinsi memang bersifat sementara dan tidak dimaksudkan sebagai solusi jangka panjang.
“Yang kami tangani dengan modifikasi cuaca ini kan memang bersifat jangka pendek karena cuacanya ini kan 'given', bukan kita yang membuat," ujar Pramono saat ditemui di Balai Kota, Jumat.
Ia menyebut kondisi cuaca ekstrem adalah faktor alam yang tidak bisa dikendalikan manusia, sehingga pemerintah fokus mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Pramono juga menekankan dirinya tidak sekadar meniru cara gubernur sebelumnya dalam menghadapi persoalan banjir. Selain modifikasi cuaca, ia mulai mendorong langkah jangka panjang seperti normalisasi sejumlah sungai.
Beberapa aliran yang menjadi perhatian antara lain Kali Ciliwung, Kali Krukut, hingga Kali Cakung Lama yang ditinjau langsung olehnya pada Jumat pagi.
“Dan ini memerlukan biaya yang cukup tinggi dan itu saya akan lakukan. Ini pasti nggak populer, karena apa? Harus memindahkan masyarakat, harus menyiapkan rumah susun dan sebagainya dan pasti nanti di lapangan mau, tidak mau, suka tidak suka pasti ada singgungannya," kata Pramono.
Meski begitu, ia mengaku tidak keberatan dengan kritik yang datang dari berbagai pihak dan justru menganggapnya sebagai bagian penting dalam proses perbaikan.
“Memang kalau teman-teman nggak mengritik itu menurut saya kurang, jadi saya memang ingin dikritik juga," ucapnya.
Di media sosial, kritik terhadap Operasi Modifikasi Cuaca juga ramai dibicarakan. Salah satunya disampaikan akun Instagram @pulihkanjakarta yang menilai langkah tersebut bertentangan dengan siklus alam.
“Hujan adalah siklus alam, keberadaannya dibutuhkan makhluk hidup di darat. Ketika hujan diintervensi melalui modifikasi cuaca, dalam jangka panjang justru akan mengakibatkan masalah lingkungan hidup lain: kesuburan dan sumber daya tanah,” tulis akun tersebut.
OMC bukan untuk menghentikan hujan
Menanggapi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta kembali menegaskan bahwa modifikasi cuaca tidak bertujuan menghentikan hujan sepenuhnya.
“Kita tidak bisa menghentikan hujan. Kita hanya mengalihkan," kata Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi BPBD DKI Jakarta Mohammad Yohan.
Ia menjelaskan, pesawat yang ditugaskan dalam operasi tersebut menyasar awan hujan di wilayah laut sebelum memasuki daratan. Proses penaburan garam dilakukan agar hujan turun di laut.
Menurut Yohan, seluruh tahapan OMC telah melalui perhitungan matang bersama BMKG dan BNPB.
“Seperti kemarin yang kita sasar itu di Selat Sunda. Awan-awan yang berpotensi masuk ke wilayah Jawa Barat dan Jakarta, kita gugurkan di atas laut," katanya.
Dengan begitu, hujan diharapkan tidak sampai mengguyur wilayah daratan Jakarta. Yohan juga memastikan proses ini aman bagi lingkungan karena dilakukan sesuai aturan dan kajian yang berlaku.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026