Sport

Piala Dunia 2026 Jadi Ajang Olahraga Paling Politis Saat Ini

Jakarta (KABARIN) - Piala Dunia selama puluhan tahun selalu dipandang sebagai ruang netral. Sepak bola dipercaya mampu melampaui batas ideologi, konflik, bahkan perang. Namun menjelang kick-off edisi 2026, narasi itu mulai terasa berbeda.

Alih-alih sekadar bicara taktik, pemain bintang, atau prediksi juara, atmosfer menuju turnamen justru dipenuhi isu geopolitik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Piala Dunia terlihat seperti panggung tempat olahraga, keamanan global, dan kepentingan politik bertemu secara langsung.

Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada Juni-Juli 2026 ini berpotensi menjadi edisi paling politis sepanjang sejarah FIFA World Cup.

Piala Dunia di Tengah Dinamika Dunia yang Tidak Stabil
Di tengah dinamika geopolitik dunia yang sedang berkecamuk, hegemoni Piala Dunia tampaknya tidak menjadi ajang nomor wahid yang ditunggu-tunggu tahun ini.

Tidak seperti gelaran terdahulu yang kemeriahannya sudah terasa dari beberapa bulan sebelumnya, Piala Dunia tahun ini masih terdistraksi dengan sederet konflik politik negara-negara tuan rumah, maupun peserta yang secara tidak langsung sangat berdampak pada gelaran ini.

Amerika Serikat sebagai pusat penyelenggaraan menghadapi berbagai persoalan sensitif, mulai dari kebijakan imigrasi yang diperketat, kontroversi lembaga ICE, hingga ketegangan geopolitik dengan beberapa negara. Situasi ini secara langsung menimbulkan pertanyaan besar soal akses suporter, keamanan, dan diplomasi olahraga.

Ketegangan tidak berhenti di situ. Hubungan dagang AS dengan Kanada memanas akibat perang tarif, sementara Denmark bersitegang dengan Washington akibat sengketa Greenland. Di sisi lain, konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran bahkan berpotensi mengubah komposisi peserta turnamen.

Sepak bola pun sulit dipisahkan dari realitas politik global.

Ancaman Mundurnya Iran
Salah satu isu paling serius datang dari Iran. Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengungkapkan peluang negaranya tampil di Piala Dunia kini berada dalam tanda tanya besar.

Pernyataan tersebut muncul setelah eskalasi militer besar yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Dampaknya bukan hanya diplomatik, tetapi juga olahraga.

Menurut Taj, situasi politik membuat partisipasi Iran semakin sulit secara logistik maupun keamanan.

Jika Iran benar-benar mundur, regulasi FIFA memungkinkan slot tersebut digantikan tim lain. Uni Emirat Arab disebut sebagai kandidat terkuat, sementara skenario lain membuka peluang bagi Irak mendapat promosi posisi grup.

Artinya, konflik geopolitik kini bisa menentukan siapa yang bermain di Piala Dunia, sesuatu yang hampir tak pernah terjadi sebelumnya.

Masalah Internal Negara Tuan Rumah
Ironisnya, persoalan terbesar justru datang dari negara penyelenggara sendiri.

Di Amerika Serikat, pejabat kota tuan rumah memperingatkan Kongres bahwa persiapan keamanan belum optimal. Pembekuan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri menghambat distribusi dana ratusan juta dolar yang seharusnya digunakan untuk pengamanan stadion, pengendalian drone, hingga koordinasi darurat.

Dengan kurang dari beberapa bulan menuju turnamen, lembaga keamanan mengaku belum mencapai kesiapan ideal untuk event olahraga terbesar dunia.

Kekhawatiran makin meningkat setelah insiden kekerasan domestik serta lemahnya koordinasi antar lembaga keamanan federal dan lokal.

Meksiko dan Ancaman Kartel Narkoba
Sementara itu, Meksiko menghadapi tantangan berbeda.

Operasi militer terhadap bos kartel narkoba Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho” memicu gelombang kekerasan balasan di berbagai wilayah. Blokade jalan, pembakaran fasilitas publik, hingga serangan terhadap aparat keamanan kembali menjadi sorotan internasional.

Meski Presiden Claudia Sheinbaum menjamin keamanan turnamen dan menegaskan situasi perlahan stabil, kekhawatiran tetap ada, terutama karena beberapa kota terdampak berada dekat lokasi pertandingan Piala Dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, penangkapan tokoh-tokoh penting kartel di negara bagian Sinaloa juga kerap diikuti aksi balasan berupa baku tembak dan pembakaran kendaraan.

Meksiko sendiri dijadwalkan menjadi tuan rumah untuk 13 pertandingan dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, termasuk empat laga di Guadalajara.

Kritik Blatter: FIFA Terlalu Dekat dengan Politik
Kontroversi semakin panas setelah mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Gianni Infantino.

Blatter menilai hubungan erat Infantino dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan bahwa Piala Dunia berisiko menjadi alat publisitas politik. Ia bahkan menyebut turnamen ini berpotensi berubah menjadi panggung kekuatan geopolitik, bukan sekadar festival sepak bola.

Menurutnya, FIFA harus memastikan olahraga tetap menjadi ruang persatuan, bukan alat legitimasi kekuasaan.

Ketika Sepak Bola Tak Lagi Netral
Sejak era Perang Dingin hingga Piala Dunia Qatar 2022, sepak bola memang selalu memiliki dimensi politik. Namun edisi 2026 menghadirkan skala yang berbeda.

Konflik militer, perang dagang, isu imigrasi, keamanan domestik, hingga rivalitas antarnegara tuan rumah hadir secara bersamaan menjelang satu turnamen.

Piala Dunia 2026 tampaknya bukan lagi tentang siapa mengangkat trofi di partai final. Turnamen ini menjadi refleksi kondisi dunia saat ini, terfragmentasi, sensitif, dan penuh kepentingan geopolitik.

Pertanyaan besarnya kini sederhana, apakah sepak bola masih relevan sebagai bahasa universal pemersatu?

Atau justru Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai momen ketika politik akhirnya benar-benar mengambil alih panggung olahraga terbesar di dunia.

Copyright © KABARIN 2026
TAG: