Jakarta (KABARIN) - Mantan Menteri Luar Negeri periode 2001–2009 Noer Hassan Wirajuda menilai peluang Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel sangat tergantung pada penerimaan dari kedua pihak yang bertikai.
"Menjadi mediator kan harus ada penerimaan dari dua pihak yang bertikai," ujar Hassan saat menjawab wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa malam.
Hassan menekankan, peran mediator baru bisa berjalan jika kedua belah pihak bersedia menerima pihak ketiga sebagai fasilitator. Namun, dalam kondisi konflik yang masih diwarnai serangan dan ketegangan, suasana kondusif untuk memulai dialog masih sulit dibayangkan.
Menurut dia, dialog biasanya muncul ketika masing-masing pihak menyadari mereka tidak mampu meraih kemenangan sepenuhnya. Selama ambisi dan keyakinan untuk menang masih kuat, waktu yang tepat untuk mediasi pun belum datang.
"Ketika masing-masing masih ambisi dan yakin dia akan menang ya, timingnya paling tidak, timingnya belum tentu," jelas Hassan.
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan Presiden Prabowo Subianto siap menjadi mediator jika Iran dan Amerika Serikat bersedia membuka ruang mediasi.
"Jika kedua belah pihak berkeinginan, ya kita, Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator. Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu, ya kita kembalikan kepada mereka," kata Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyambut baik niat Pemerintah Indonesia meski sampai saat ini belum ada langkah konkret terkait mediasi.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog demi menciptakan kondisi yang aman dan kondusif kembali di kawasan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026