Foodies

Kuliner Indonesia Kaya Ungkap Sejarah Rasa dari 3 Kota Nusantara

Jakarta (KABARIN) - Indonesia Kaya melalui program web series dokumentasi kuliner khas Nusantara "Kuliner Indonesia Kaya", mengangkat sejarah kuliner kuat dari tiga kota yaitu Ternate, Palembang, dan Banten, yang masing-masing menyimpan kekayaan rasa sekaligus jejak panjang perjalanan budaya di Indonesia.

"Setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi. Di situlah letak kekuatan kuliner Nusantara, bukan sekadar pada rasanya, tetapi pada nilai sejarah, akulturasi, dan filosofi hidup yang menyertainya," ujar Program Director Indonesia Kaya Renitasari Adrian dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta pada Kamis.

Episode pertama yang tayang pada Kamis (26/2) di YouTube IndonesiaKaya membawa penonton ke Ternate, salah satu titik penting dalam Jalur Rempah. Di pulau ini, kuliner tumbuh dari keseimbangan antara masyarakat dan alam sekitarnya.

Salah satu tradisi yang diangkat adalah Rimo-rimo, metode memasak yang diwariskan secara turun-temurun dan dilakukan tanpa menggunakan alat dapur, melainkan memanfaatkan bambu sebagai wadah alami.

Founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, Kris Syamsudin mengatakan rimo-rimo adalah tradisi memasak masyarakat Ternate yang lahir dari situasi bertahan hidup. Dahulu orang-orang harus bisa memasak tanpa panci, sehingga bambu dimanfaatkan sebagai media memasak. Bahan-bahannya pun cukup umum, mulai dari daging, ayam, sayur lilin, hingga umbi-umbian.

"Tradisi ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang cara hidup dan pengetahuan leluhur yang kami harap bisa terus dipertahankan,” ujarnya.

Selain Rimo-rimo, episode ini juga menghadirkan Gohu Ikan yang mengandalkan kesegaran laut dengan proses pengolahan yang minimal. Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Ternate memanfaatkan hasil laut secara sederhana, sekaligus menunjukkan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya.

Dalam episode kedua, sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang menyimpan memori panjang yang mengalir bersama Sungai Musi.

Melalui Pindang Ikan, penonton diajak melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan sungai, tidak hanya ikan patin, tetapi juga gabus, hingga baung. Cita rasa asam pedas yang segar menjadi ciri khas yang merepresentasikan kedekatan masyarakat dengan alam sekitarnya.

Selain itu, hadir pula Kue Delapan Jam yang melambangkan kesabaran dan keseimbangan melalui proses pematangan selama delapan jam hingga menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan.

Bersanding dengannya, Kue Maksuba yang berlapis dan legit menjadi bagian penting dalam tradisi pernikahan dan perayaan besar seperti Lebaran di masyarakat Palembang. Proses pembuatannya yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan menjadikannya simbol kecermatan serta kematangan, sekaligus cerminan nilai yang dilekatkan pada perempuan Palembang.

Episode ketiga yang akan tayang pada Kamis, 12 Maret 2026 menghadirkan Banten dengan jejak Kesultanannya. Sate Bandeng yang konon menjadi hidangan favorit Sultan Maulana Hasanuddin lahir dari kreativitas juru masak keraton untuk menyajikan bandeng tanpa duri sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kerajaan.

Selain itu hidangan berbahan daging kambing atau sapi, Rabeg, dipercaya telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Berdasarkan cerita turun temurun, Rabeg terinspirasi dari pengalaman sang Sultan saat menunaikan ibadah haji dan singgah di Kota Rabig di tepi Laut Merah, di mana ia menyantap olahan daging kambing yang kemudian diadaptasi sepulangnya ke Banten.

Renitasari mengatakan sejak tahun 2017 dokumenter mengenai kuliner Nusantara secara konsisten dilakukan bukan semata menghadirkan visual yang menggugah selera, tetapi juga merekam pengetahuan, filosofi, dan perjalanan budaya yang menyertainya.

Dengan durasi yang ringkas namun padat di setiap episodenya, tayangan ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk lebih mengenal, memahami, dan menghargai warisan gastronomi Indonesia.

"Karena pada akhirnya, di balik setiap rasa tersimpan identitas, sejarah, dan cerita panjang yang membentuk karakter sebuah daerah sekaligus bangsa,” tutup Renitasari.

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: