Jakarta (KABARIN) - Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi mengingatkan masyarakat untuk tidak ikut-ikutan memborong Bahan Bakar Minyak (BBM) karena tindakan itu justru bisa memicu kelangkaan dan membuat harga naik.
“Aksi panic buying itu aksi instan dan bahkan egois, yang tak akan menyelesaikan permasalahan. Jadi, sebaiknya aksi panic buying itu tidak dilakukan oleh masyarakat konsumen,” kata Tulus di Jakarta, Selasa.
Menurut Tulus, masyarakat sebaiknya lebih fokus mengatur konsumsi BBM, misalnya dengan memanfaatkan angkutan umum untuk aktivitas harian agar penggunaan bahan bakar lebih terkendali.
Dia juga mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang rasional dan menyeluruh agar konsumsi BBM bisa dikendalikan secara efektif. Beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan antara lain penerapan sistem bekerja dari rumah atau dari mana saja (WFH/WFA), pengurangan hari kerja, hingga evaluasi kuota BBM bersubsidi 60 liter per hari untuk pertalite.
“Konsumsi pertalite kita rerata hanya 19,5 liter per hari untuk kendaraan pribadi secara nasional. Mengevaluasi kuota konsumsi BBM bersubsidi, lebih kecil dampak sosial ekonominya dari pada menaikkan harga BBM,” jelas Tulus.
Selain itu, Tulus menyoroti konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang dikhawatirkan bisa mengganggu pasokan BBM global termasuk ke Indonesia karena sebagian besar pasokan BBM dan gas elpiji berasal dari Timur Tengah.
Situasi ini memicu kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan sehingga aksi borong BBM mulai muncul di beberapa daerah seperti Aceh dan Jember.
Tulus menekankan jika fenomena ini tidak segera dikendalikan, aksi borong BBM bisa meluas dan membuat pasokan menjadi semakin tertekan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026