Los Angeles (KABARIN) - Ilmuwan Amerika Serikat berhasil mencetak pencapaian besar dengan menyelesaikan peta tiga dimensi (3D) alam semesta terbesar dan paling detail yang pernah dibuat. Proyek ini dikerjakan lewat instrumen Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) selama lima tahun terakhir.
DESI merupakan alat yang dioperasikan oleh Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley dan didanai oleh Kantor Sains Departemen Energi AS. Misi utamanya adalah memetakan alam semesta untuk memahami energi gelap serta sejarah ekspansi kosmos.
Hasilnya ternyata melampaui ekspektasi. Dalam pernyataan yang dirilis Rabu (15/4), DESI disebut berhasil menyelesaikan pemetaan lebih cepat dari jadwal sekaligus menangkap objek luar angkasa jauh lebih banyak dari target awal.
Awalnya, DESI dirancang untuk mengukur spektrum sekitar 34 juta galaksi dan kuasar dalam lima tahun, mencakup dua pertiga langit utara. Tapi realitanya, instrumen ini berhasil memetakan lebih dari 47 juta galaksi dan kuasar, ditambah sekitar 20 juta bintang di Galaksi Bimasakti.
Dengan data sebanyak itu, para ilmuwan kini punya gambaran yang jauh lebih detail tentang struktur besar alam semesta, termasuk bagaimana galaksi tersebar dan bagaimana ruang angkasa terus mengembang.
Menariknya, proyek ini belum berhenti. DESI masih akan melanjutkan pemetaan hingga tahun 2028 dengan target yang lebih ambisius.
Area survei akan diperluas dari sekitar 14.000 menjadi 17.000 derajat persegi, atau naik sekitar 20 persen. Selain itu, para ilmuwan menargetkan bisa mengumpulkan hingga 63 juta data pergeseran merah (redshift) dari objek ekstragalaksi.
Ekspansi ini juga akan mencakup wilayah yang sebelumnya sulit diamati, seperti area dekat bidang Bimasakti dan bagian langit yang lebih jauh ke selatan.
Dengan capaian ini, DESI jadi salah satu proyek paling penting dalam upaya manusia memahami misteri terbesar di alam semesta, termasuk energi gelap yang hingga kini masih jadi teka-teki besar dalam dunia sains.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026