Health

Stres Berlebihan Bisa Ditandai dengan Wajah yang Bengkak

Jakarta (KABARIN) -

Wajah yang tiba-tiba terlihat bengkak, sembap, atau terasa berat ternyata bukan cuma akibat kurang tidur atau kebanyakan makan asin. Kondisi itu juga bisa jadi sinyal kalau tubuh sedang mengalami stres berlebihan.

Dilansir dari Hindustan Times, Rabu (13/5), kondisi wajah bengkak memang sering dikaitkan dengan hal-hal sepele seperti menangis atau kelelahan. Namun dalam beberapa kasus, hal tersebut bisa berkaitan dengan kesehatan mental, terutama stres yang sudah mulai memengaruhi tubuh secara serius.

Direktur neurologi di Fortis Noida, Jyoti Bala Sharma, mengatakan wajah bengkak bisa menjadi tanda seseorang tidak mampu mengelola stres dengan baik.

Menurut Dr Sharma, stres dalam kadar tertentu sebenarnya bukan hal buruk. Bahkan, stres bisa membantu meningkatkan fokus, motivasi, dan respons tubuh saat menghadapi situasi menantang.

Namun masalah mulai muncul ketika stres terjadi terus-menerus dalam jangka panjang. Kondisi inilah yang dikenal sebagai stres kronis.

Seiring waktu, stres kronis dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun emosional, bahkan sampai mengubah tampilan wajah menjadi lebih sembap, lelah, dan bengkak.

Dr Sharma menjelaskan bahwa stres bukan hanya masalah emosional, tetapi juga berkaitan dengan reaksi biologis tubuh. Saat seseorang stres, tubuh akan melepaskan hormon tertentu yang memicu respons “melawan atau melarikan diri”.

“Detak jantung dan pernapasan meningkat, otot menegang, dan tubuh menjadi lebih waspada. Meski berguna dalam keadaan darurat, aktivasi respons ini secara berulang atau berkepanjangan dapat menjadi berbahaya,” kata dia.

Ia menegaskan stres sebenarnya bukan penyakit. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik, kondisi itu bisa memperburuk penyakit yang sudah ada sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan baru.

Dr Sharma membagi stres menjadi dua jenis, yaitu stres jangka pendek dan stres jangka panjang.

Stres jangka pendek biasanya muncul menjelang ujian, presentasi, wawancara kerja, atau momen penting lainnya. Jenis stres ini dinilai masih normal karena membantu tubuh tetap fokus dan produktif.

Sementara itu, stres kronis dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dan berdampak buruk pada tubuh secara perlahan.

“Jenis stres ini sering berkembang karena tekanan kerja yang konstan, tekanan keuangan, masalah hubungan, penyakit, dan trauma emosional,” imbuh dia.

Menurut Dr Sharma, dampak stres kronis bisa muncul dalam berbagai bentuk. Secara fisik, kondisi ini dapat menyebabkan sakit kepala, otot tegang, tekanan darah tinggi, gangguan tidur, masalah pencernaan, tubuh mudah lelah, hingga sulit berkonsentrasi.

Bahkan dalam jangka panjang, stres berkepanjangan juga dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan kontrol gula darah.

Tak cuma fisik, kesehatan mental juga bisa ikut terdampak.

“Stres dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, mudah marah, emosi yang tidak stabil, dan rendah diri,” ujar dia.

Untuk membantu mengurangi stres, Dr Sharma menyarankan beberapa langkah sederhana seperti mengurangi konsumsi kafein, menghindari alkohol dan rokok, tidur cukup, hingga rutin melakukan teknik relaksasi seperti yoga dan meditasi.

Selain itu, olahraga ringan seperti berjalan kaki juga dinilai efektif membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengatur waktu dengan baik, membangun pola pikir positif, meluangkan waktu untuk istirahat, serta menjaga hubungan sosial dengan teman dan keluarga.

Jika stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional juga menjadi langkah yang disarankan.

Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: