News

Kurang Aktivitas Fisik Picu Gangguan Saluran Kemih pada Pria Produktif

salah satu tindakan pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah masalah saluran kemih adalah skrining kesehatan urologi pria berdasarkan kelompok usia.

Tangerang (KABARIN) - Spesialis Urologi Eka Hospital MT Haryono, dr. Dyandra Parikesit, menyoroti bahwa gaya hidup masyarakat modern yang minim aktivitas fisik, tingkat stres tinggi, serta faktor genetik turut meningkatkan risiko gangguan saluran kemih pada pria usia produktif.

"Banyak pria sering kali mengabaikan gejala gangguan saluran kemih dan baru ke dokter saat gejalanya memburuk. Meski dianggap penyakit orang tua, faktanya saat ini gangguan saluran kemih bisa dialami pria di usia berapa saja," kata dr. Dyandra Parikesit di Tangerang Jumat.

Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah skrining kesehatan urologi pria yang disesuaikan dengan kelompok usia.

Untuk kelompok usia 30 tahun, fokus pemeriksaan diarahkan pada kesehatan reproduksi dan program kehamilan, mengingat pada fase ini pria umumnya berada pada puncak produktivitas dan karier. Namun, tekanan pekerjaan, stres, kebiasaan merokok, serta gaya hidup sedentari menjadi faktor pemicu utama gangguan urologi di usia muda.

Salah satu pemeriksaan penting adalah analisis sperma untuk menilai kualitas reproduksi pria, termasuk jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma.

Selain itu, deteksi dini varikokel juga disarankan untuk mengidentifikasi pembengkakan pembuluh darah vena di kantung testis yang dapat menjadi salah satu penyebab infertilitas pria, meski sering tidak disadari.

Pada kelompok usia 45 tahun ke atas, evaluasi lebih difokuskan pada fungsi seksual dan gejala awal gangguan prostat. Penurunan hormon testosteron dan berkurangnya elastisitas jaringan saluran kemih mulai terjadi secara bertahap.

Disfungsi ereksi, kata dia, dapat menjadi tanda awal gangguan pembuluh darah yang kerap berkaitan dengan penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, maupun penyakit jantung koroner.

Pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala juga diperlukan untuk memantau kadar ureum dan kreatinin guna mendeteksi penurunan fungsi filtrasi ginjal sejak dini.

Gejala gangguan berkemih yang perlu diwaspadai antara lain aliran urine melemah, harus mengejan saat buang air kecil, urine menetes di akhir, hingga sering terbangun malam hari untuk berkemih.

Memasuki usia 50 tahun ke atas, pemeriksaan saluran kemih tahunan menjadi penting karena risiko pembesaran prostat jinak maupun keganasan semakin meningkat.

Pemeriksaan darah PSA juga direkomendasikan untuk mendeteksi dini gangguan prostat, termasuk potensi kanker prostat sebelum gejala fisik muncul.

Selain itu, pemeriksaan uroflowmetry digunakan untuk mengukur kekuatan dan pola aliran urine guna menilai tingkat sumbatan saluran kemih akibat pembesaran prostat jinak (BPH).

"Jangan menunda pemeriksaan urologi hanya karena merasa belum ada keluhan yang menyakitkan. Melakukan skrining sejak dini dapat membantu mempertahankan fungsi reproduksi, seksual, dan sistem ekskresi urin yang optimal hingga usia lanjut," kata dr. Dyandra.

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: