Hal yang terjadi di Aceh Barat sesungguhnya bukan hanya tentang 34,1 hektare lahan yang terbakar. Ini adalah pengingat bahwa menjaga lingkungan jauh lebih murah, lebih mudah, dan lebih manusiawi dibandingkan memulihkan kerusakan setelah bencana terja
Meulaboh (KABARIN) - Selama lebih dari dua pekan terakhir, sebagian langit Kabupaten Aceh Barat tidak lagi menampilkan warna biru yang jernih. Kepulan asap putih keabu-abuan terus membubung dari hamparan lahan yang mengering, menjadi penanda bahwa daerah ini kembali berhadapan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat menunjukkan bahwa sejak akhir Mei hingga pertengahan Juni, sedikitnya 34,1 hektare lahan telah terbakar.
“Meski sudah meluas dan bertambah, sebagian besar lokasi kebakaran sudah berhasil kami padamkan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku
Ronal Nehdiansyah.
Luasan kebakaran itu memang belum sebesar karhutla yang pernah melanda sejumlah wilayah lain di Indonesia, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa persoalan kebakaran lahan masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan.
Di balik angka tersebut tersimpan kisah panjang tentang perjuangan manusia melawan api, sekaligus pelajaran penting mengenai hubungan kita dengan alam.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Aceh Barat, sebaran api tidak di satu lokasi, tapi menyebar di lima kecamatan, yakni Bubon, Samatiga, Meureubo, Arongan Lambalek, dan Johan Pahlawan. Kecamatan Bubon menjadi wilayah yang paling terdampak dengan total lahan terbakar mencapai 25 hektare.
Sebaran titik api yang terpencar membuat upaya pemadaman menjadi jauh lebih rumit. Tim gabungan tidak bisa memusatkan kekuatan pada satu lokasi, melainkan harus membagi personel, peralatan, dan perhatian ke berbagai titik sekaligus.
Di atas kertas, pemadaman mungkin terlihat sederhana: datang ke lokasi, menyemprotkan air, lalu memadamkan api. Kenyataannya jauh berbeda. Petugas harus bekerja di tengah cuaca kering yang berlangsung selama berminggu-minggu. Curah hujan yang minim membuat vegetasi mengering dan mudah terbakar. Angin kencang mempercepat penyebaran api sekaligus menyulitkan proses pemadaman.
Asap tebal membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa meter, sementara akses menuju lokasi kebakaran sering kali hanya berupa jalan tanah sempit yang tidak dapat dilalui kendaraan besar.
Banyak armada pemadam terpaksa berhenti di tepi jalan utama. Dari titik itu, petugas harus berjalan kaki sambil memanggul mesin pompa air, membawa gulungan selang, serta jeriken bahan bakar untuk mencapai titik api yang berada jauh di pedalaman.
Perjuangan menjadi semakin berat ketika api membakar lahan gambut. Karakteristik gambut membuat kebakaran tidak hanya terjadi di permukaan. Bara dapat terus menyala di bawah tanah dan merambat tanpa terlihat. Dari luar, lahan tampak padam. Namun beberapa sentimeter di bawah permukaan, api masih hidup dan terus bergerak mencari bahan bakar baru.
Karena itu, memadamkan kebakaran gambut bukan sekadar menyiram kobaran api yang terlihat. Petugas harus memastikan bahwa bara di dalam tanah benar-benar mati. Jika tidak, api dapat muncul kembali beberapa hari kemudian.
Di sinilah bahaya terbesar mengintai. Setiap langkah kaki petugas di atas lahan gambut yang terbakar menyimpan risiko. Tanah yang tampak kokoh bisa saja menyembunyikan rongga panas di bawahnya. Salah pijak, kaki dapat terperosok ke area yang masih membara.
Saling mendukung
Ironisnya, ketika api harus dipadamkan dengan air, sumber air justru menjadi barang langka. Parit-parit yang biasanya menjadi andalan mengering. Sumur warga mengalami penyusutan. Bahkan beberapa rawa dan aliran kecil tidak lagi memiliki debit yang cukup untuk mendukung operasi pemadaman.
Dalam kondisi seperti itu, tim gabungan harus berimprovisasi. Mereka mencari genangan tersisa, menggali tanah gambut agar air dapat terkumpul, lalu menyedotnya menggunakan pompa portable. Karena sumber air sering berada jauh dari lokasi kebakaran, belasan hingga puluhan rol selang harus disambung untuk mengalirkan air ke titik api.
Tak jarang air yang berhasil diperoleh bercampur lumpur pekat dan berisiko merusak mesin pompa. Namun tidak ada banyak pilihan ketika tujuan utamanya adalah menghentikan api sebelum meluas.
Beruntung, perjuangan di lapangan tidak dilakukan sepihak. Karhutla Aceh Barat memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi bencana.
BPBD mendapat dukungan dari TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), petugas pemadam kebakaran, mahasiswa, hingga masyarakat setempat. Masing-masing memainkan peran penting, mulai dari pemadaman langsung, penyediaan sumber air, hingga penyampaian informasi mengenai pergerakan api.
Ketika kemampuan pemadaman dari darat mulai menemui keterbatasan, dukungan dari udara menjadi penopang utama. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter water bombing untuk menjangkau titik-titik api yang sulit dicapai petugas darat. Ribuan liter air dijatuhkan langsung ke area kebakaran guna menekan kobaran api sekaligus mencegah perambatan ke wilayah lain.
Tidak hanya itu, BNPB juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Melalui pesawat khusus, tim teknis menaburkan natrium klorida atau garam ke awan potensial agar proses pembentukan hujan dapat dipercepat. Hingga pertengahan Juni, tercatat sekitar 11 ton garam telah disemai di langit Aceh Barat.
Upaya ini menunjukkan bahwa menghadapi karhutla bukan hanya soal keberanian petugas di lapangan, tetapi juga melibatkan teknologi, sains, dan koordinasi yang kompleks.
Pentingnya mencegah
Namun di balik seluruh operasi pemadaman yang heroik itu, ada satu pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan: sampai kapan kita akan terus sibuk memadamkan api, tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya?
Setiap tahun, berbagai daerah di Indonesia menghadapi ancaman serupa. Setiap tahun pula sumber daya yang besar harus dikerahkan untuk memadamkan kebakaran yang sebenarnya dapat dicegah.
Karhutla bukan semata-mata persoalan bencana alam. Dalam banyak kasus, faktor manusia masih menjadi penyebab utama. Pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian, maupun aktivitas lain yang memicu munculnya api di musim kemarau, sering kali menjadi awal dari bencana yang lebih besar.
Karena itu, upaya pencegahan harus ditempatkan jauh di depan dibandingkan penanganan.
Kesadaran untuk tidak membakar lahan harus menjadi komitmen bersama, baik oleh masyarakat maupun korporasi. Terlebih ketika kondisi cuaca sedang sangat kering, percikan api sekecil apa pun dapat berubah menjadi bencana yang menghanguskan puluhan hektare lahan dalam waktu singkat.
Hal yang terjadi di Aceh Barat sesungguhnya bukan hanya tentang 34,1 hektare lahan yang terbakar. Ini adalah pengingat bahwa menjaga lingkungan jauh lebih murah, lebih mudah, dan lebih manusiawi dibandingkan memulihkan kerusakan setelah bencana terjadi.
Karena itu, peristiwa karhutla di Kabupaten Aceh Barat, menorehkan pertanyaan penting bagi kita semua, apakah kita mampu menjaga alam tanpa harus membakarnya, atau justru akan terus hidup berdampingan dengan siklus bencana yang datang silih berganti?
Di tengah kepungan asap dan panas yang menyengat, para petugas telah menunjukkan ketangguhan luar biasa. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, KPH, hingga para relawan mahasiswa dan masyarakat tidak sekadar memegang selang air, tetapi mereka sedang bertaruh dengan alam yang sedang tidak bersahabat.
Apresiasi setinggi-tingginya tentu pantas disematkan kepada mereka yang berada di garis depan medan pertempuran di tengah kepungan asap yang menyesakkan dada. Namun, keberhasilan sejati bukanlah ketika api berhasil dipadamkan, melainkan ketika suatu hari nanti mereka tidak lagi harus berjibaku menghadapi kebakaran yang sama berulang kali.