Jakarta (KABARIN) - Lemak visceral yang menumpuk di area perut bukan cuma mengganggu penampilan, tetapi juga berisiko bagi kesehatan. Lemak jenis ini diketahui berkaitan dengan berbagai penyakit serius.
Pendiri wisebitenutrition Raksha Shah, M.A., RDN menyebut kadar lemak perut yang tinggi sering dikaitkan dengan resistensi insulin, diabetes tipe 2, perlemakan hati, hingga penyakit jantung. Karena itu, mengurangi lemak perut perlu dibarengi dengan menghindari kebiasaan tertentu.
Dikutip dari Eating Well pada Minggu (4/1), berikut empat kebiasaan yang sebaiknya dijauhi jika ingin lemak perut berkurang dan tubuh tetap sehat.
1. Minum minuman bersoda manis
Minuman bersoda dengan kandungan gula tinggi dapat meningkatkan asupan kalori secara cepat tanpa memberi rasa kenyang. Gula tambahan yang masuk ke tubuh akan diproses oleh hati dan diubah menjadi lemak.
Jika dikonsumsi terus-menerus, lemak tersebut akan menumpuk di sekitar organ perut. Karena itu, minuman bersoda manis sering dikaitkan dengan peningkatan lemak visceral. Air putih atau teh tanpa gula menjadi pilihan yang lebih ramah bagi tubuh.
2. Tidak mengelola stres
Stres yang dibiarkan berlarut-larut dapat membuat lemak perut semakin sulit dihilangkan. Praktisi nutrisi Toby Amidor, M.S., RD menjelaskan stres kronis dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.
Saat stres, tubuh memproduksi lebih banyak hormon kortisol yang berperan dalam penyimpanan lemak di area perut. Sejumlah penelitian juga menunjukkan orang dengan tingkat stres tinggi cenderung memiliki lemak visceral lebih banyak. Olahraga ringan atau melakukan aktivitas yang menyenangkan bisa membantu menekan stres.
3. Merokok
Kebiasaan merokok dalam jangka panjang diketahui berhubungan dengan peningkatan lemak visceral. Nikotin dapat memicu naiknya kadar kortisol yang mendorong penumpukan lemak di perut.
Menariknya, redistribusi lemak ini bisa terjadi meski seseorang terlihat kurus. Karena itu, merokok sering menjadi faktor risiko tersembunyi yang memperparah akumulasi lemak di area perut.
4. Kurang tidur
Kurang tidur kronis dapat mengacaukan kerja hormon yang mengatur rasa lapar dan stres. Amidor menyebut kondisi ini membuat tubuh memproduksi lebih banyak ghrelin atau hormon lapar, sementara produksi leptin yang memberi sinyal kenyang justru menurun.
Ketidakseimbangan ini meningkatkan keinginan makan dan berujung pada asupan kalori berlebih. Selain itu, kurang tidur juga memicu naiknya hormon kortisol. Tidur berkualitas selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam membantu menjaga keseimbangan hormon dan mendukung upaya mengurangi lemak perut.
Sumber: Eating Well