Jakarta (KABARIN) - Perilaku kucing yang sering mengeong, gelisah, hingga berusaha kabur dari rumah saat birahi kerap membuat pemilik kewalahan. Salah satu solusi yang banyak dipilih untuk mengatasi kondisi ini adalah sterilisasi.
Namun, sebelum memutuskan tindakan tersebut, penting bagi pemilik untuk memahami secara menyeluruh manfaat dan efek samping sterilisasi pada kucing. Dengan informasi yang tepat, sterilisasi tidak hanya membantu mengendalikan birahi, tetapi juga berperan dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup kucing dalam jangka panjang.
Berikut ini penjelasan mengenai pentingnya sterilisasi pada kucing, termasuk manfaat serta kemungkinan efek samping yang dapat timbul.
Apa itu sterilisasi pada kucing?
Sterilisasi merupakan salah satu langkah penting dalam perawatan kucing, terutama untuk mengendalikan perilaku birahi yang kerap menimbulkan masalah bagi kucing maupun pemiliknya.
Tindakan ini tidak hanya bertujuan mencegah perkembangbiakan yang tidak terkontrol, tetapi juga berperan dalam menjaga kesehatan kucing secara menyeluruh.
Manfaat sterilisasi kucing
Dari sisi manfaat, sterilisasi dapat membantu mengurangi perilaku agresif, kebiasaan mengeong berlebihan, hingga kecenderungan kucing untuk kabur saat birahi. Selain itu berikut manfaat lainnya:
1. Mengurangi risiko kehamilan
Bagi pemilik yang tidak berencana menambah jumlah kucing peliharaan, sterilisasi menjadi solusi yang efektif untuk mencegah kehamilan. Pada kucing betina, tindakan ini dilakukan dengan mengangkat ovarium, sedangkan pada kucing jantan melalui pengangkatan testis. Setelah disteril, kucing tidak lagi mampu bereproduksi sehingga risiko kehamilan dapat dihindari.
2. Mencegah penyakit pada organ reproduksi
Pada kucing betina, penyakit serius seperti infeksi rahim dan kanker pada organ reproduksi dapat mengancam keselamatan hidupnya. Tindakan sterilisasi dengan pengangkatan ovarium dapat membantu menurunkan risiko penyakit-penyakit berbahaya tersebut.
3. Perilaku lebih tenang dan stabil
Setelah disteril, kucing jantan cenderung tidak lagi sering berkeliaran jauh dari rumah atau terlibat pertarungan. Kucing betina pun tidak lagi mengalami siklus birahi yang membuatnya gelisah, sering mengeong, dan tidak tenang.
4. Menurunkan risiko penularan penyakit virus
Kucing yang sering keluar rumah untuk mencari pasangan memiliki risiko lebih tinggi tertular virus berbahaya seperti FIV dan FeLV. Dengan sterilisasi, keinginan kucing untuk berkeliaran berkurang sehingga risiko tertular dan menularkan penyakit tersebut juga dapat ditekan.
5. Mencegah cedera akibat perkelahian
Perilaku agresif yang menurun membuat kucing lebih jarang terlibat perkelahian. Hal ini membantu mengurangi risiko luka, cedera serius, atau infeksi akibat gigitan dan cakaran.
6. Menjaga kebersihan rumah
Manfaat sterilisasi tidak hanya dirasakan oleh kucing, tetapi juga oleh pemiliknya. Kucing yang telah disteril umumnya tidak lagi memiliki kebiasaan menyemprotkan urine untuk menandai wilayah, sehingga rumah menjadi lebih bersih dan bebas dari bau tidak sedap.
7. Mengurangi tingkat stres pada kucing
Musim kawin dapat menjadi sumber stres bagi kucing, baik jantan maupun betina, terutama jika mereka tidak dapat menyalurkan naluri kawinnya. Dengan sterilisasi, dorongan tersebut berkurang sehingga kucing tidak lagi mengalami tekanan dan kegelisahan berlebihan saat musim kawin tiba.
Efek samping sterilisasi kucing
Meski manfaat sterilisasi cukup banyak, tindakan ini juga memiliki beberapa konsekuensi yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya adalah hilangnya potensi reproduksi. Kucing yang telah disteril tidak lagi dapat berkembang biak, sehingga keturunannya tidak bisa diharapkan. Bagi pemilik yang fokus pada pengembangbiakan ras tertentu, hal ini tentu menjadi pertimbangan penting.
Selain itu, sterilisasi berpotensi menyebabkan obesitas jika pola makan kucing tidak diatur dengan baik. Setelah disteril, kebutuhan energi kucing cenderung menurun karena tidak lagi memiliki dorongan reproduksi. Jika asupan makanan tetap diberikan dalam jumlah berlebihan, penumpukan berat badan sulit dihindari.
Oleh karena itu, pengaturan porsi makan yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis kucing sangat diperlukan untuk menjaga berat badannya tetap ideal. Dengan memahami kondisi pasca operasi serta potensi kerugiannya, pemilik kucing dapat memberikan perawatan yang lebih tepat dan seimbang demi kesehatan kucing dalam jangka panjang.
Perhatikan juga pola buang air kecil kucing. Apabila kucing tampak lebih sering buang air kecil, mengalami kesulitan, atau terlihat adanya darah pada urine, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter hewan. Pada sebagian kucing, sterilisasi dapat memicu gangguan pada saluran kemih yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selain itu, kucing yang telah disteril umumnya menjadi lebih tenang dan tidak se-aktif sebelumnya. Kondisi ini sering kali membuat kucing rentan mengalami kenaikan berat badan. Untuk mencegah hal tersebut, pemilik disarankan tetap mengajak kucing bergerak, seperti bermain ringan atau aktivitas sederhana agar kebutuhan olahraganya tetap terpenuhi.
Dengan mempertimbangkan manfaat dan efek sampingnya, sterilisasi tetap menjadi pilihan yang direkomendasikan bagi banyak pemilik kucing. Keputusan ini sebaiknya diambil dengan dukungan informasi yang cukup serta konsultasi dengan dokter hewan, agar kucing mendapatkan perawatan terbaik sesuai kebutuhannya.
Sumber: ANTARA