Xi'an (KABARIN) - Arkeolog baru saja menemukan klaster berisi 31 makam yang usianya hampir 3.000 tahun di Provinsi Shaanxi, China barat laut.
Penemuan ini dianggap penting untuk memahami perkembangan politik dan sosial pada masa itu.
Makam-makam tersebut berada di Reruntuhan Changchun, wilayah Fuping, Kota Weinan. Penggalian dilakukan sejak Agustus 2022 secara kolaborasi antara Institut Arkeologi Provinsi Shaanxi, Museum Weinan, dan biro kebudayaan serta pariwisata setempat.
Selain makam, tim peneliti juga menemukan lima lubang yang berisi sisa kereta dan kuda.
Makam-makam yang lebih kecil biasanya hanya punya satu peti mati dan tidak ada benda perunggu yang ikut dikubur.
Peneliti hanya menemukan wadah tembikar dan ornamen dari cangkang kerang, yang menunjukkan pemilik makam kemungkinan berasal dari kalangan rakyat biasa.
Li Yanfeng, peneliti di SPIA, menyatakan makam-makam ini bisa dibagi ke dalam empat kategori berdasarkan bentuknya, dengan perbedaan hierarki yang jelas.
Makam M1 dan M2 punya status lebih tinggi karena masing-masing memiliki tiga lapis peti mati.
Lebih dari 300 artefak berhasil digali, terbuat dari tembaga, giok, batu, lak, dan cangkang kerang. Beberapa yang menarik adalah liontin giok bermotif manusia dan naga, tombak giok, serta lonceng batu yang indah.
Dengan membandingkan tembikar dan peralatan perunggu serta melakukan uji karbon-14 pada tulang manusia dari M1 dan M2, tim arkeolog menyimpulkan peninggalan ini berasal dari periode pertengahan hingga akhir Dinasti Zhou Barat.
Pemilik makam M2 adalah laki-laki dan diduga penguasa permukiman, sementara M1 kemungkinan makam istrinya.
"Penggalian ini nggak cuma ngasih material fisik makam-makam elite Dinasti Zhou Barat, tapi juga bukti baru buat memahami politik dan masyarakat pada masa itu," kata Li Yanfeng.
Sumber: Xinhua