London (KABARIN) - Isu Greenland kembali menjadi sorotan dunia dan berpotensi memicu ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen serta Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, pada Sabtu (17/1), memperingatkan bahwa rencana Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif terkait Greenland dapat berdampak serius pada hubungan transatlantik.
Dalam pernyataan terpisah yang disampaikan melalui platform media sosial X, kedua pemimpin Uni Eropa tersebut menegaskan bahwa integritas wilayah dan kedaulatan negara merupakan prinsip dasar hukum internasional yang tidak bisa ditawar, baik bagi Eropa maupun komunitas global.
Mereka juga menanggapi latihan militer Denmark yang sebelumnya telah dikoordinasikan bersama sekutu. Menurut von der Leyen dan Costa, latihan tersebut bertujuan memperkuat keamanan di kawasan Arktik dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengancam pihak mana pun.
“Uni Eropa berdiri dalam solidaritas penuh dengan Denmark dan rakyat Greenland,” tegas keduanya. Mereka menekankan pentingnya dialog terbuka dan menyatakan komitmen untuk melanjutkan proses diplomatik yang telah berjalan antara Denmark dan Amerika Serikat sejak pekan lalu.
Uni Eropa juga mengingatkan bahwa kebijakan tarif berisiko memperburuk situasi. Penerapan tarif tidak hanya berpotensi merusak hubungan ekonomi dan politik lintas Atlantik, tetapi juga dapat memicu eskalasi konflik yang sulit dikendalikan. Meski demikian, Eropa menegaskan akan tetap bersatu, terkoordinasi, dan berkomitmen penuh dalam menjaga kedaulatannya.
Sebelumnya pada hari yang sama, Presiden Trump mengumumkan rencana pemberlakuan tarif baru atas barang-barang dari delapan negara Eropa mulai 1 Februari, dengan tarif yang disebut akan meningkat tajam pada Juni mendatang. Langkah ini dikaitkan Trump dengan alasan keamanan nasional yang berkaitan dengan Greenland.
Greenland sendiri merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark yang selama ini menarik perhatian Amerika Serikat karena posisinya yang strategis serta kekayaan sumber daya mineral. Kepentingan tersebut semakin menguat di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik.
Trump bahkan berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat perlu mengakuisisi Greenland demi kepentingan keamanan nasional dan untuk mencegah pengaruh Rusia maupun China di wilayah tersebut. Namun, Denmark dan Greenland dengan tegas menolak wacana tersebut dan kembali menegaskan kedaulatan Denmark atas pulau itu.
Ketegangan ini menambah daftar panjang dinamika geopolitik global, di mana kepentingan keamanan, ekonomi, dan kedaulatan saling beririsan—dan kini, Greenland berada tepat di tengah pusaran tersebut.
Sumber: Anadolu_OANA