Makassar (KABARIN) - Proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, berlangsung penuh tantangan. Medan yang ekstrem memaksa tim penyelamat menggunakan teknik khusus demi menjangkau lokasi korban yang berada di tebing curam.
Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, mengatakan bahwa tim vertical rescue Basarnas melakukan evakuasi menggunakan teknik rappelling, yakni metode penurunan dari ketinggian dengan bantuan tali dan peralatan keselamatan khusus.
“Posisi korban berada di lokasi yang sangat sulit dijangkau. Karena itu, tim vertikal rescue Basarnas menggunakan teknik rappelling dalam proses evakuasi,” ujar Bangun di Makassar, Minggu.
Menurutnya, teknik tersebut dipilih karena kondisi medan di Gunung Bulusaraung tergolong ekstrem, dengan kemiringan tebing hampir 90 derajat. Dalam situasi seperti ini, penggunaan teknik konvensional dinilai berisiko tinggi.
Secara teknis, rappelling merupakan metode turun dari ketinggian—seperti tebing, jurang, atau struktur vertikal—menggunakan tali khusus yang dikendalikan dengan alat penurun (descender), serta dilengkapi harness dan alat pelindung diri (APD) untuk menjaga keselamatan petugas.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport diketahui jatuh di Pegunungan Bulusaraung pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.00 WITA. Pesawat tersebut membawa 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Bangun menjelaskan, satu korban berhasil dievakuasi melalui jalur Balocci, Kabupaten Pangkep, karena akses menuju darat lebih dekat dan memungkinkan ambulans menjangkau lokasi dengan lebih cepat dibandingkan jalur Kabupaten Maros.
Pencarian bangkai pesawat serta korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan, yang terdiri dari Basarnas, TNI Angkatan Udara, AirNav Indonesia, serta unsur terkait lainnya.
Sebelumnya, informasi dari Kementerian Kehutanan menyebutkan bahwa kondisi cuaca saat pesawat dilaporkan hilang kontak relatif stabil. Berdasarkan data BMKG, cuaca saat itu sedikit berawan dengan jarak pandang mencapai sekitar 8 kilometer.
Meski demikian, medan pegunungan yang terjal dan sulit diakses menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi, yang hingga kini masih terus berlanjut dengan mengutamakan keselamatan seluruh personel di lapangan.
Sumber: ANTARA