Studi Ungkap Polusi Udara Bisa Turunkan Kesuburan Pria hingga 50 Persen

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Selama ini, polusi udara kerap dikaitkan dengan gangguan paru-paru dan penyakit jantung. Namun, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa dampaknya bisa jauh lebih luas—termasuk pada kesehatan reproduksi pria.

Paparan polusi udara dalam jangka panjang diketahui berhubungan dengan berbagai masalah kesuburan. Sejumlah studi mengungkap bahwa polutan seperti PM10, PM2.5, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon, hingga karbon monoksida dapat memicu kerusakan DNA dan menurunkan kualitas sperma.

Menurut laporan Hindustan Times pada 15 Januari 2026, para ilmuwan mengamati adanya penurunan bertahap pada konsentrasi, pergerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi) sperma pada pria yang tinggal di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi tinggi.

“Paparan jangka panjang terhadap udara tercemar telah dikaitkan dengan kualitas air mani yang rendah, yang dapat memengaruhi peluang kehamilan baik secara alami maupun melalui program seperti IVF,” ujar dr. Isha Nandal, dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus ahli bedah laparoskopi di Yellow Fertility, Rohtak, India.

Salah satu penyebab utama penurunan kesuburan akibat polusi adalah stres oksidatif. Polusi udara memicu lonjakan radikal bebas di dalam tubuh, yang dapat merusak sel-sel sehat.

“Ketika jumlah racun melebihi kemampuan antioksidan alami tubuh, sel-sel mulai diserang—termasuk sel sperma,” jelas dr. Nandal.

Tak hanya itu, paparan polusi juga dapat mengganggu keseimbangan hormon. Kadar testosteron, hormon penting dalam proses produksi sperma, bisa menurun atau berfluktuasi akibat zat pencemar di udara.

“Kondisi ini berpengaruh langsung pada proses pembentukan sperma,” tambahnya.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Endocrinology bahkan menemukan bahwa paparan polutan lingkungan dapat menyebabkan penurunan jumlah sperma hingga 50 persen.

Menariknya, kualitas sperma mencerminkan kondisi tubuh pria dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Artinya, udara yang dihirup hari ini bisa berdampak pada peluang kesuburan beberapa bulan ke depan.

“Inilah alasan mengapa pembahasan soal kesuburan perlu diperluas. Selama ini, infertilitas sering hanya dikaitkan dengan faktor perempuan, seperti usia biologis, berat badan, dan stres,” ujar dr. Nandal.

Ia menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran akan hubungan antara lingkungan dan kesehatan reproduksi pria. Kabar baiknya, beberapa perubahan gaya hidup sederhana bisa membantu mengurangi dampak tersebut.

“Langkah kecil seperti menghindari area dengan lalu lintas padat, menggunakan pembersih udara di dalam ruangan, memastikan ventilasi yang baik, serta tidak merokok dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan sperma,” tutupnya.

Sumber: Hindustan Times

Bagikan

Mungkin Kamu Suka