Belajar Melepas Kehilangan di Tengah Bayangan Teknologi dalam Film "Esok Tanpa Ibu"

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) -

Kehilangan tidak selalu datang dengan tangis keras atau peristiwa besar. Kadang ia muncul pelan-pelan, saat rumah masih terasa sama, rutinitas berjalan normal, tapi satu sosok penting tiba-tiba tak lagi hadir dalam keseharian. Perasaan inilah yang menjadi napas utama film Esok Tanpa Ibu.

Film ini mengajak penonton menyelami duka dengan cara yang tenang dan personal. Ceritanya berfokus pada Rama, remaja 16 tahun yang hidupnya berubah sejak sang ibu jatuh koma. Sejak awal, film ini tidak mengejar drama berisik, melainkan memilih mendekati luka batin seorang anak yang belum siap menerima kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Rama digambarkan sebagai sosok pendiam yang menyimpan kesedihan sendiri. Ia tidak banyak melawan atau berteriak, justru memilih bertahan dalam ingatan tentang ibunya yang selama ini menjadi tempat pulang, pendengar cerita, sekaligus penyeimbang dalam keluarga.

Ketidakmauan Rama menerima kenyataan kemudian membuka pintu pada kehadiran i-BU, sebuah kecerdasan buatan yang meniru sosok ibunya secara visual dan suara. Bagi Rama, teknologi ini terasa seperti pelukan hangat yang membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Lewat i-BU, ia menunda perpisahan dan merasa belum benar-benar sendirian.

Film ini tidak serta-merta menyudutkan teknologi sebagai hal yang jahat. Justru ditunjukkan bahwa bagi orang yang sedang berduka, segala bentuk pengganti bisa terasa masuk akal. Masalah mulai muncul saat kenyamanan berubah menjadi ketergantungan, ketika i-BU perlahan mengambil lebih banyak ruang dalam hidup Rama dan batas antara manusia dan mesin makin kabur.

Di sinilah Esok Tanpa Ibu berbicara soal teknologi sebagai dua sisi mata uang. Ia bisa menenangkan, tapi juga menahan seseorang terlalu lama di fase penyangkalan.

Cerita Rama juga bersinggungan dengan relasinya bersama sang ayah. Sejak awal, hubungan mereka terasa kaku dan minim obrolan mendalam. Selama ini, ibu menjadi penghubung emosional di rumah. Ketika peran itu hilang, Rama dan ayahnya harus berhadapan langsung dengan jarak yang selama ini terpendam.

Konflik di antara mereka terasa nyata karena berangkat dari kegagalan komunikasi yang sering terjadi di banyak keluarga. Film ini dengan jujur menangkap relasi ayah dan anak yang terjebak dalam diam, gengsi, dan ketidakmampuan mengungkapkan perasaan.

Pada titik ini, Esok Tanpa Ibu terasa lebih kuat sebagai drama keluarga dibanding sekadar film bertema teknologi. Perjalanan Rama ditampilkan sebagai proses berduka yang alami. Penyangkalan terlihat dari ketergantungannya pada i-BU, kemarahan muncul lewat benturan dengan ayah, hingga kesedihan mendalam saat ia mulai sadar bahwa teknologi tak akan pernah benar-benar menggantikan manusia.

Semua itu disampaikan lewat detail kecil, ekspresi tertahan, dan dialog yang sering dibiarkan menggantung. Salah satu adegan paling berkesan hadir saat Rama menatap taman bunga, momen sederhana yang menyiratkan bahwa hidup terus berjalan meski kehilangan tak pernah benar-benar hilang.

Tanpa banyak kata, adegan itu menandai pergeseran emosi Rama menuju penerimaan.

Di akhir cerita, film ini tidak menawarkan penutup manis yang instan. Esok Tanpa Ibu memilih akhir yang sunyi dan reflektif, seolah menegaskan bahwa ikhlas adalah perjalanan panjang yang tidak bisa dipercepat, bahkan dengan bantuan teknologi tercanggih sekalipun.

Film ini tidak menolak kehadiran AI, tapi menempatkannya secara jujur sebagai alat yang bisa membantu sekaligus menyesatkan. Di tengah dunia yang makin canggih dan serba tiruan, Esok Tanpa Ibu mengingatkan satu hal sederhana, bahwa menghadapi duka tetap butuh keberanian manusia, dan ikhlas tidak pernah bisa diprogram.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka