Istanbul (KABARIN) - Hujan tak berhenti, sungai meluap, dan malam berubah menjadi kepanikan bagi ribuan warga Filipina. Siklon Tropis Penha, yang dikenal warga setempat sebagai Basyang, meninggalkan jejak duka dan pengungsian massal setelah memicu banjir parah dan longsor di sejumlah wilayah, termasuk Cagayan dan kawasan Mindanao.
Sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas, sementara puluhan ribu lainnya terpaksa meninggalkan rumah demi keselamatan. Media lokal Inquirer melaporkan, empat korban tewas merupakan satu keluarga di Kota Cagayan de Oro yang tertimbun longsor saat hujan deras mengguyur tanpa henti. Empat korban lainnya berasal dari Iligan dan Agusan del Norte, wilayah yang juga terdampak cukup parah.
Basyang tak hanya menghantam Mindanao. Siklon ini turut menyebabkan banjir besar di Visayas Barat, Pulau Negros, Visayas Tengah, hingga Caraga. Data Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Filipina (NDRRMC) mencatat lebih dari 64.000 orang harus mengungsi, meninggalkan rumah, barang berharga, dan rutinitas sehari-hari.
Pemerintah setempat memindahkan 16.528 keluarga ke 480 pusat evakuasi yang tersebar di berbagai daerah. Sementara itu, ribuan warga lainnya memilih berlindung di rumah kerabat atau tempat yang dianggap lebih aman. Di pusat-pusat pengungsian, kehidupan dijalani seadanya—berbagi ruang, makanan, dan harapan agar cuaca segera membaik.
Biro cuaca Filipina menyatakan kekuatan Basyang mulai melemah dan berubah menjadi Area Tekanan Rendah (Low Pressure Area/LPA) pada Sabtu dini hari, setelah lima kali mendarat (landfall) di wilayah Mindanao dan Visayas. Meski demikian, hujan sisa masih berpotensi menimbulkan genangan dan longsor di daerah rawan.
Dampak siklon ini juga terasa di sektor transportasi. Puluhan penerbangan dibatalkan, membuat ribuan penumpang terlantar di bandara. Otoritas Penerbangan Sipil Filipina (CAAP) mencatat 32 penerbangan dibatalkan sejak Kamis, dengan 7.737 penumpang terdampak.
Di tengah lumpur, genangan air, dan antrean bantuan, warga Filipina kini berupaya bangkit perlahan. Bagi banyak keluarga, pemulihan bukan hanya soal membersihkan rumah, tetapi juga memulihkan rasa aman setelah bencana datang tanpa permisi.
Sumber: ANAD