Lansian di China Banyak yang Nikmati Masa Pensiun Jadi Konten Kreator

waktu baca 4 menit

Beijing (KABARIN) - Fenomena lansia yang aktif di media sosial makin terasa di China. Salah satunya datang dari Liu, seorang pria hampir 70 tahun asal kota pesisir Dalian, Provinsi Liaoning. Berbekal kamera ponsel, Liu rutin merekam video pendek berdurasi sekitar lima menit di rumahnya, menampilkan hidangan laut buatannya seperti yang selalu ia lakukan sehari-hari.

Setelah pensiun dari pabrik makanan pada 2017, Liu sempat merasa kehilangan arah. Hari-harinya terasa sepi. Atas dorongan sang anak, ia pun mencoba masuk ke media sosial. Karena memang hobi masak dan suka menjelajah kuliner khas daerah, Liu mulai mengunggah konten masakan ke Douyin, versi TikTok di China. Tak disangka, kontennya disambut hangat. Kini, pengikutnya sudah tembus lebih dari 5 juta orang.

“Saya tidak pernah menyangka begitu banyak orang akan tertarik pada orang tua seperti saya. Saya sangat terinspirasi oleh komentar-komentar mereka. Mereka benar-benar memberi saya kepercayaan diri untuk terus membuat konten video ini,” kata Liu.

Apa yang dialami Liu bukan kasus tunggal. Semakin banyak lansia di China yang terjun ke dunia digital. Per Juni 2025, jumlah pengguna internet lansia di China mencapai 161 juta orang, atau lebih dari separuh populasi lansia di negara itu, menurut data Pusat Informasi Jaringan Internet China. Menariknya, para lansia ini tak cuma jadi penonton. Banyak dari mereka justru aktif jadi kreator konten.

Cerita hidup, foto-foto lama penuh nostalgia, sampai hobi yang kembali digeluti di masa pensiun, kini jadi bahan konten yang ramai dibagikan. Media sosial berubah jadi ruang baru bagi lansia China untuk berekspresi sekaligus mengejar hal-hal yang dulu mungkin tertunda.

Platform gaya hidup Rednote (Xiaohongshu), yang dikenal sebagai “markas anak muda”, kini juga mulai dipenuhi pengguna usia 60 tahun ke atas. Hingga akhir 2024, jumlah pengguna aktif bulanan lansia di Rednote sudah melampaui 30 juta orang. Jumlah kreator konten lansia di platform ini melonjak tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir, dengan total lebih dari 100 juta konten yang dipublikasikan.

Di Douyin, tren ini juga terasa kuat. Jumlah pengikut influencer lansia mencapai 34 juta, sementara unggahan dengan topik “Kakek dan Nenek” sudah ditonton lebih dari 10 miliar kali. Bagi Hu Yihang (27), menonton video Liu sebelum tidur sudah jadi kebiasaan. “Ada sesuatu yang sangat akrab dari Liu. Setiap kali menonton videonya, saya selalu teringat pada kakek saya,” katanya.

China sendiri merupakan negara dengan populasi lansia terbesar di dunia. Hingga akhir 2025, lebih dari 320 juta penduduknya berusia 60 tahun ke atas, atau lebih dari seperlima total populasi. Pemerintah China pun terus berupaya beradaptasi dengan realitas masyarakat yang menua ini.

Pada 2024, Kantor Umum Dewan Negara China merilis pedoman pengembangan ekonomi perak untuk meningkatkan kesejahteraan lansia. Isinya menekankan pentingnya aktivitas budaya dan olahraga, serta mendorong berkembangnya industri konten ramah lansia, mulai dari literatur, radio, film, televisi, musik, video pendek, hingga media digital lainnya.

“China harus secara aktif merespons populasi yang menua dan menyempurnakan kebijakan serta mekanisme untuk mengoordinasikan pengembangan program dan industri perawatan lansia,” tulis Komite Sentral Partai Komunis China (CPC) dalam rekomendasinya untuk Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030).

Dari sisi praktik, berbagai kursus pelatihan untuk lansia juga bermunculan. Materinya beragam, dari cara pakai smartphone, belanja online, sampai membuat dan mengedit video pendek. Tujuannya jelas: menurunkan hambatan digital agar para lansia lebih nyaman masuk ke era teknologi.

Sektor swasta pun ikut ambil bagian. Pada 2024, Rednote menggelontorkan dana 3,4 miliar yuan (sekitar 490 juta dolar AS) untuk pembaruan ramah lansia, seperti ukuran huruf yang lebih besar dan tampilan yang lebih sederhana.

“Pengguna lansia tidak resisten terhadap teknologi baru. Mereka hanya membutuhkan desain digital yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata seorang manajer produk Rednote. Menurutnya, optimasi platform ini terbukti mendorong naiknya jumlah kreator konten lansia.

Tren lansia aktif di media sosial juga sejalan dengan perubahan cara pandang tentang penuaan di China. Survei Universitas Renmin China pada 2014 dan 2020 menunjukkan sikap lansia terhadap proses menua makin positif. Jika pada 2014 lebih dari 75 persen responden merasa dirinya tua, pada 2020 angkanya turun menjadi 47 persen.

Bagi Liu, petualangannya di media sosial bukan cuma soal popularitas. Kegiatan ini justru bikin suasana keluarga makin hangat. Putra dan menantunya membantu merekam serta mengedit video, sementara istrinya ikut tampil di konten.

“Menjadi tua secara usia bukan berarti menjadi tua secara jiwa. Mempertahankan rasa ingin tahu terhadap kehidupan membantu saya tetap positif dan enerjik, serta membuat masa pensiun saya lebih bermakna dan penuh semangat,” ujar Liu.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka