Jakarta (KABARIN) - Ada pemain hebat. Ada legenda. Lalu ada pemain yang mengubah cara orang memahami permainan — dan Chris Paul termasuk kategori terakhir.
Setelah 21 musim mengatur tempo, membaca permainan seperti buku terbuka, dan membuat rekan setim terlihat lebih baik dari yang mereka kira, point guard ikonik NBA itu akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada lapangan.
Ia menulis perpisahan dengan nada sederhana: bahagia, bersyukur — dan sedikit sulit percaya semuanya sudah selesai.
Maestro yang Tak Pernah Mengandalkan Fisik
Di era atlet super eksplosif, Paul justru menonjol lewat kecerdasan.
Ia bukan pemain paling tinggi atau paling cepat, tapi hampir selalu pemain paling paham situasi.
Selama kariernya di National Basketball Association ia mengumpulkan:
- 12.552 assist
- 2.728 steal
Keduanya menempatkannya di peringkat kedua sepanjang sejarah liga — angka yang lebih menggambarkan otak daripada otot.
Ia juga jadi pemain pertama yang menembus 20.000 poin dan 10.000 assist sekaligus.
Statistik yang menunjukkan satu hal: dia bukan cuma pengumpan, dia pengendali permainan.
Perjalanan Panjang dari Draft hingga Veteran
Semua dimulai saat ia dipilih oleh New Orleans Hornets pada NBA Draft 2005. Sejak itu, Paul menjadi wajah dari banyak tim — tapi identitasnya selalu sama: pemimpin di lapangan.
Di Los Angeles Clippers ia membentuk era “Lob City”. Di berbagai tim lain ia menjadi mentor generasi muda. Dan bahkan di usia 40, ia masih membaca permainan lebih cepat dari pemain 20-an tahun.
Komisioner Adam Silver menyebut Paul salah satu point guard terbaik sepanjang sejarah — bukan hanya karena statistik.
Ia juga memimpin serikat pemain dan membantu liga melewati masa pandemi, peran yang jarang terlihat di highlight tapi besar dampaknya.
Di level internasional, Paul membawa pulang dua emas Olimpiade bersama tim AS, termasuk skuad legendaris Redeem Team.
Akhir yang Tenang
Musim terakhirnya mungkin bukan yang paling gemilang secara angka. Tapi itu terasa pas — seorang jenderal lapangan meninggalkan permainan tanpa drama, hanya dengan rasa cukup.
Karena untuk pemain seperti Chris Paul, warisan bukan soal cincin juara saja. Melainkan cara ia membuat basket terlihat lebih cerdas setiap malam.
Sumber: ANTARA