Kemenkes: Puasa Sehat Dinilai Jadi Kunci Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Hidup Modern

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kementerian Kesehatan menilai puasa yang dijalani dengan cara yang tepat bisa membantu menjaga keseimbangan antara fisik dan mental. Praktik ini dianggap relevan untuk menghadapi tekanan hidup di era modern yang serba cepat dan penuh distraksi.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyebut puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga membentuk kesadaran diri dan ketenangan batin. Ia mengatakan para ahli menyarankan puasa dijalani dengan niat spiritual yang jelas, disertai mindfulness, pola hidup sehat, serta dukungan lingkungan sosial agar manfaatnya lebih maksimal.

Ramadhan, menurut Imran, kerap menjadi momen refleksi diri dan perbaikan mental. Meski begitu, gangguan mental masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya di kalangan remaja.

"Namun, selama Ramadhan, banyak individu melaporkan penurunan gejala stres dan kecemasan berkat praktik puasa dan aktivitas spiritual," ujarnya.

Ia juga menyinggung hasil penelitian yang menunjukkan puasa berkontribusi besar terhadap kesehatan mental pelajar. Praktik pengendalian diri dan peningkatan spiritualitas selama puasa dinilai membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik dan merasa lebih bahagia.

"Studi Universitas Sirjan Azad menemukan bahwa individu yang berpuasa menunjukkan pengendalian diri yang lebih kuat, yang berdampak positif pada kesehatan mental mereka. Peneliti menemukan bahwa pengendalian diri selama puasa ini membantu individu untuk lebih tenang dalam menghadapi tekanan hidup," katanya.

Imran menjelaskan bahwa puasa juga berdampak langsung pada sistem hormon dalam tubuh. Mengutip pandangan Prof Dr Siti Nur Azizah, ia menyebut puasa membantu menekan hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan hormon endorfin yang berperan dalam rasa bahagia.

Menurutnya, Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan beban pikiran dan memperkuat kedekatan spiritual, yang berujung pada ketenangan jiwa. Aktivitas ibadah seperti doa dan zikir juga berfungsi sebagai latihan mindfulness yang membantu fokus pada kondisi saat ini dan menurunkan kecemasan.

Dari sisi kesehatan otak, puasa dinilai berdampak positif pada fungsi kognitif. Proses alami tubuh seperti autofagi membantu membersihkan sel-sel rusak, termasuk di otak, sehingga berkontribusi pada kejernihan berpikir dan suasana hati yang lebih stabil.

Meski begitu, Imran mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki kondisi mental yang sama. Bagi individu dengan gangguan mental berat, Ramadhan bisa menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, peran keluarga dan komunitas sangat dibutuhkan agar mereka tetap mendapatkan dukungan dan merasa aman selama menjalani bulan suci.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka