Ketegangan di Timur Tengah Meninggi, Kekhawatiran Perang Dunia III Muncul

waktu baca 4 menit

Singkatnya, risiko Perang Dunia III bukannya nol atau tidak ada, tapi risikonya dinilai rendah dalam jangka pendek.

Jakarta (KABARIN) - Mereka yang mendukung serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebaiknya ingat pepatah bijak yang mengatakan bahwa "korban pertama dari perang adalah kebenaran itu sendiri."

Sebelum agresi militer pada akhir Februari 2026 itu, sebenarnya ada kemajuan dalam negosiasi antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Oman.

Optimisme muncul saat AS dan Iran melakukan putaran baru pembicaraan nuklir di Jenewa, Swiss, yang dipandu oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi.

Al-Busaidi menyebut diskusi itu konstruktif dan beberapa isu inti yang menjadi perselisihan terkait program nuklir Iran menunjukkan kemajuan. Ia menegaskan putaran terbaru "mencapai kemajuan signifikan," yang membuka jalan bagi pembicaraan teknis lanjutan di Wina.

Meski pejabat Iran menegaskan keseriusan mereka dalam bernegosiasi, semua harapan itu buyar dengan agresi AS-Israel.

Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan banyak warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak.

Menurut The Wall Street Journal, lebih dari 2000 target di seluruh Iran diserang. Lembaga Bulan Sabit Merah mengungkapkan korban tewas sejak Sabtu (28/2) mencapai 555 orang, sebagaimana dikutip Kantor Berita Fars.

Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam wawancara dengan Daily Mail bahwa operasi militer AS terhadap Iran bisa berlangsung sekitar empat pekan atau kurang dari itu.

Mereka yang mendukung serangan ini mungkin beralasan diplomasi jarang berjalan mulus, namun sampai kini tidak ada bukti bahwa Iran telah berhasil memproduksi senjata nuklir dan Teheran menegaskan riset nuklir mereka untuk tujuan damai dan terbuka untuk diawasi IAEA.

Ada dugaan bahwa serangan ini juga untuk menunjukkan kekuatan militer AS dan Israel, namun banyak pengamat menilai aksi ini kontraproduktif dan merusak jalur diplomasi yang sudah berjalan, serta melanggar hukum internasional.

Potensi Perang Dunia

Pertanyaannya kini apakah serangan AS-Israel bisa memicu Perang Dunia III.

Jawabannya tidak sederhana karena saat ini konflik masih bersifat regional. Iran menghadapi serangan terhadap infrastrukturnya oleh AS dan Israel, namun aksi balasan Iran juga terbatas pada lokasi militer tertentu.

Perang dunia memerlukan keterlibatan langsung beberapa kekuatan besar di berbagai medan tempur.

Potensi eskalasi menjadi global bisa muncul jika Rusia atau China secara langsung terlibat. Misalnya, Rusia mengerahkan pasukan atau aset militer ke Iran sehingga berpotensi bentrok dengan AS, begitu juga jika China terlibat aktif di Teluk Persia.

Namun, saat ini Rusia dan China lebih memilih menurunkan ketegangan. Xinhua melaporkan Rusia menyerukan deeskalasi dan pemulihan diplomasi sesuai Piagam PBB dan Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan negaranya prihatin atas serangan AS-Israel dan mendesak penghentian aksi militer serta melanjutkan dialog untuk perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

Risiko Rendah Perang Global

Singkatnya, risiko Perang Dunia III tidak nol, tapi relatif rendah dalam jangka pendek.

Selama tidak ada tindakan provokatif signifikan yang melibatkan kekuatan besar, konflik ini kemungkinan tetap bersifat regional.

Pencegahan eskalasi membutuhkan koordinasi semua pihak termasuk AS, Israel, Iran, negara-negara Arab, mediator regional, dan lembaga multilateral.

Tindakan permusuhan harus dihentikan segera. AS dan Israel perlu menghentikan operasi ofensif, sementara Iran menahan serangan balasan dengan fokus proporsional.

Gencatan senjata yang diawasi mekanisme kredibel bisa memberi ruang diplomasi baru, sementara mediator netral harus segera dipilih untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dan keamanan regional.

Negara-negara Teluk dan Turki perlu mencegah provokasi, memperkuat pertahanan, dan bersiap menghadapi potensi pengungsi tanpa memicu konflik baru.

PBB harus menegakkan hukum internasional, melindungi warga sipil, menyalurkan bantuan kemanusiaan, dan mendorong tekanan diplomatik untuk menjaga perdamaian.

Insentif ekonomi seperti pengurangan sanksi atau integrasi perdagangan bisa memotivasi Iran dan aktor regional untuk berkomitmen pada stabilitas.

Dengan kombinasi pengendalian militer, diplomasi, keamanan regional, insentif ekonomi, dan koordinasi kemanusiaan, potensi konflik berkembang menjadi perang lebih luas bisa dicegah.

Meski jalannya sulit, koordinasi dan konsistensi tindakan tersebut menjadi kunci untuk menjaga kawasan tetap stabil dan menghindari konfrontasi global.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka