Moskow (KABARIN) - Ketegangan konflik di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada jalur perdagangan energi dunia. Sekitar 200 kapal tanker dilaporkan terjebak di pintu masuk Selat Hormuz di Teluk Oman pada Selasa (3/3).
Berdasarkan data pelacakan kapal MarineTraffic yang dianalisis kantor berita RIA Novosti, jumlah tersebut membuat total kapal yang tertahan di kawasan strategis itu mencapai sekitar 300 unit.
Situasi ini terjadi karena saat ini tidak ada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur laut vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Secara geografis, wilayah pantai utara selat berada di bawah Iran, sementara pantai selatan terbagi antara Uni Emirat Arab dan Oman.
Penghentian aktivitas pelayaran dipicu oleh konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Jalur Selat Hormuz selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk ke berbagai belahan dunia.
Eskalasi konflik meningkat setelah pada 28 Februari Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil.
Iran kemudian membalas serangan gabungan tersebut dengan meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Menariknya, serangan terhadap Iran tetap berlangsung meskipun sebelumnya sempat ada pembicaraan terkait program nuklir Iran antara Washington dan Teheran di Jenewa yang dimediasi oleh Oman.
Kondisi ini membuat jalur Selat Hormuz praktis lumpuh sementara waktu. Dampaknya bukan hanya dirasakan negara-negara di kawasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global, harga minyak dunia, hingga rantai distribusi energi internasional.
Bagi banyak negara pengimpor energi, situasi ini menjadi alarm serius karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia biasanya melewati jalur laut sempit tersebut. Ketika pergerakan kapal berhenti, efek domino terhadap ekonomi global pun sulit dihindari.
Sumber: SPU