Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp16.900 per dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi di pasar keuangan.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan bank sentral akan terus hadir di pasar guna menjaga pergerakan rupiah agar tidak bergejolak lebih dalam akibat sentimen global.
“Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Destry.
Menurutnya, pelemahan rupiah masih searah dengan mata uang negara lain di kawasan. Secara month to date, rupiah turun sekitar 0,51 persen dan dinilai masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa mata uang regional.
Dari sisi fundamental, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat tetap solid di angka 154,6 miliar dolar AS pada akhir Januari 2026. Selain itu, aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik sepanjang tahun ini mencapai sekitar Rp25,7 triliun.
Pada awal perdagangan Rabu di Jakarta, rupiah dibuka melemah 58 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp16.930 per dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.872 per dolar AS.
Sumber: ANTARA