Amerika Serikat Tawarkan Pengawalan Kapal Tanker di Teluk Persia

waktu baca 2 menit

Tokyo (KABARIN) - Amerika Serikat akan menawarkan asuransi dan pengawalan dari Angkatan Laut untuk kapal tanker yang melintasi wilayah Teluk Persia, kata Presiden Donald Trump pada Selasa (3/3), saat konflik pascaserangan AS-Israel ke Iran meluas ke seluruh Timur Tengah dan berpotensi mengganggu perekonomian global.

Lewat media sosial, Trump mengaku telah memerintahkan Perusahaan Keuangan Pembangunan Internasional (DFC) AS untuk segera menyediakan apa yang disebutnya asuransi "risiko politik" dan jaminan keamanan keuangan perdagangan maritim dengan "harga yang sangat wajar" ke semua perusahaan pelayaran.

Di tengah lonjakan harga minyak, Trump mengatakan asuransi tersebut akan tersedia, terutama bagi kapal-kapal di Teluk Persia yang membawa pasokan energi.

Ia menambahkan bahwa jika perlu, Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal tanker melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia.

Menurut Trump, pemerintahannya juga sedang mempertimbangkan tindakan lebih lanjut untuk memastikan pasokan energi yang andal untuk dunia.

Di antara negara-negara yang sangat bergantung pada sumber daya energi dari Timur Tengah, Jepang mengimpor 95 persen minyak mentahnya dari wilayah tersebut, yang sebagian besar melintasi selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman.

Pernyataan Trump itu muncul menyusul serangan pada Sabtu, di mana pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah pemimpinnya tewas sehingga memicu konflik yang meluas di seluruh wilayah pengekspor minyak terpenting di dunia.

Menanggapi serangan gabungan AS-Israel, Iran kemudian melakukan balasan dengan menyerang fasilitas energi di wilayah tersebut sekaligus memperingatkan bahwa kapal apa pun yang berusaha melintasi Selat Hormuz akan dibakar.

Dengan situasi Timur Tengah yang semakin bergejolak, Trump juga mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval saat bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, bahwa banyak pejabat yang dianggap sebagai calon pemimpin baru Iran tewas dalam serangan AS-Israel.

Ditanya soal skenario terburuk di Iran, Trump menjawab seseorang yang "seburuk" mendiang Ayatollah Ali Khamenei mengambil alih negara itu. Trump belum buka-bukaan mengatakan siapa yang seharusnya menjadi pemimpin masa depan Iran.

"Sebagian besar orang yang kami pertimbangkan tewas," katanya. "Kami punya kelompok lain. Menurut laporan, mungkin mereka juga sudah tewas. Jadi, saya kira akan ada gelombang ketiga yang datang. Sebentar lagi, kita tidak akan mengenal siapa pun."

"Kita lihat saja apa yang terjadi, tapi pertama kita harus menghabisi militer," katanya menambahkan.

Sumber: KYO

Bagikan

Mungkin Kamu Suka