Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar Rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, tercatat melemah 58 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.930 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp16.872 per dolar AS.
Taufan Dimas Hareva dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange menjelaskan pelemahan rupiah banyak dipengaruhi ketidakpastian geopolitik yang memicu sentimen risk-off.
“Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan sentimen risk-off dan mendorong arus dana ke aset safe haven seperti dolar AS,” katanya di Jakarta.
Selain itu, ekspektasi pasar terkait pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat juga berkurang. Data ekonomi AS yang solid dan pernyataan pejabat The Fed yang berhati-hati terhadap inflasi membuat prediksi suku bunga tetap tinggi lebih lama.
Taufan menambahkan kenaikan harga minyak dunia akibat risiko gangguan pasokan turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena memengaruhi inflasi dan neraca impor energi.
Di sisi domestik, data Badan Pusat Statistik menunjukkan neraca perdagangan Januari 2026 mencatat surplus sekitar 95 miliar dolar AS. Hal ini memberi sentimen positif karena menunjukkan aliran devisa tetap stabil dan sektor eksternal relatif kuat.
Meski begitu, pengaruh positif dari data domestik masih tertahan oleh dominasi sentimen global dan penguatan dolar AS. Dengan kondisi eksternal yang cukup menekan dan fundamental dalam negeri yang relatif stabil, rupiah diperkirakan akan bergerak hati-hati menunggu arah perkembangan global selanjutnya.
Sumber: ANTARA