Trump Yakin Harga Minyak Bisa Turun Jika Iran Hapus Ancaman Nuklir

waktu baca 2 menit

Washington (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan harga minyak dunia berpotensi turun dalam waktu dekat jika persoalan yang berkaitan dengan program nuklir Iran berhasil diselesaikan.

Trump sebelumnya juga meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap lonjakan harga bahan bakar yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya kondisi pasar energi saat ini hanya bersifat sementara. Ia menilai harga minyak akan kembali turun setelah situasi keamanan membaik dan isu nuklir Iran tidak lagi menjadi ancaman.

"Harga minyak dalam jangka pendek, yang akan segera turun ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah sebuah harga yang yang sangat kecil bagi AS, dan dunia, aman dan damai," demikian kata Trump di platform media sosial TruthSocial.

Kenaikan harga minyak memang sempat terjadi pada awal pekan. Kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak cukup tajam.

Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus angka 118 dolar AS per barel. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam sekitar empat tahun terakhir.

Situasi ini tidak lepas dari meningkatnya konflik di kawasan tersebut. Sebelumnya Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran pada akhir Februari.

Serangan tersebut dilaporkan mengenai beberapa lokasi termasuk sebuah sekolah perempuan di wilayah selatan Iran. Insiden itu menewaskan sekitar 200 siswi.

Pada hari yang sama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga dilaporkan tewas. Jumlah korban jiwa akibat serangan tersebut kemudian terus bertambah.

Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa Bangsa Amir Saeed Iravani menyebut total korban meninggal kini sudah melampaui 1.300 orang.

Sebagai respons Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan menargetkan sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah serta wilayah Israel.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyebut operasi militer itu sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan ancaman dari program nuklir Iran. Namun belakangan keduanya juga secara terbuka menyatakan keinginan agar terjadi perubahan kekuasaan di Iran.

Sumber: SPU

Bagikan

Mungkin Kamu Suka