Kairo (KABARIN) - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan dukungannya kepada Mojtaba Khamenei yang baru saja ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Pasukan elite tersebut menyebut siap mengikuti arahan dari pemimpin baru negara itu.
Pernyataan kesetiaan itu muncul tidak lama setelah Mojtaba Khamenei diumumkan sebagai pengganti pemimpin sebelumnya. Mojtaba merupakan putra dari Ali Khamenei yang sebelumnya memimpin Iran.
Penetapan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi dikonfirmasi oleh Majelis Ahli Iran. Lembaga tersebut menyampaikan keputusan itu diambil melalui proses pemungutan suara para anggotanya.
"Pada sidang luar biasa hari ini, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei ditunjuk dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dalam sistem suci Republik Islam Iran," demikian pernyataan dari majelis tersebut.
Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 dan selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran. Namanya sudah lama disebut sebut sebagai calon kuat penerus kepemimpinan sebelum pengumuman resmi dilakukan.
Ali Khamenei sebelumnya meninggal dunia setelah serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Serangan yang terjadi pada akhir Februari itu juga menewaskan sejumlah anggota keluarga Khamenei, perwira militer Iran, serta warga sipil.
Pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin baru Iran langsung mendapat sorotan dari sejumlah negara. Israel sebelumnya menyatakan bahwa siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran bisa menjadi target untuk disingkirkan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengkritik keputusan tersebut. Ia menyebut penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin Iran tidak dapat diterima dan bahkan menyatakan dirinya seharusnya terlibat dalam proses penentuan pemimpin baru negara itu.
Trump juga memperingatkan bahwa jika Iran tetap menjalankan kebijakan yang sama seperti sebelumnya maka konflik baru bisa saja terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sendiri meningkat sejak serangan udara ke Teheran dan beberapa kota lain pada 28 Februari.
Setelah itu Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah aset milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sumber: Xinhua