Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.949 per Dolar AS pada Senin Sore

waktu baca 3 menit

Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional..,

Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin sore di tengah tekanan global yang semakin kuat. Kenaikan harga minyak dunia dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang Indonesia.

Pada akhir perdagangan, rupiah berada di posisi Rp16.949 per dolar AS atau turun 24 poin dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang hari, nilai tukar rupiah bahkan sempat merosot hingga sekitar 70 poin sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih stabil.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor dari dalam negeri tetapi juga sentimen global, terutama lonjakan harga minyak yang kini berada di kisaran 92 dolar AS per barel. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2020.

Harga tersebut jauh melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang mematok harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel. Kondisi ini dinilai berpotensi menambah tekanan pada anggaran negara.

"Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," kata Ibrahim.

Lonjakan harga minyak sendiri dipicu situasi geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas minyak Iran. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke sejumlah fasilitas minyak di kawasan tersebut.

Ketegangan juga meningkat setelah laporan bahwa Iran menyerang kapal di jalur pelayaran Selat Hormuz. Jalur ini sangat penting karena menjadi rute sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

"Selain itu, Iran pada hari Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel," ujar Ibrahim.

Dari kawasan Asia, pergerakan pasar juga dipengaruhi data inflasi China. Indeks harga konsumen negara tersebut tercatat naik 1,3 persen secara tahunan pada Februari, lebih tinggi dari perkiraan pasar yang hanya 0,9 persen dan menjadi yang tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Menurut Ibrahim, kenaikan inflasi tersebut dipicu lonjakan konsumsi selama libur Tahun Baru Imlek ketika permintaan perjalanan, layanan jasa, dan berbagai produk meningkat tajam. Namun inflasi produsen masih mengalami kontraksi sehingga pelaku pasar masih menunggu kepastian arah ekonomi China ke depan.

Melihat tekanan tersebut, Ibrahim menilai pemerintah perlu mengambil beberapa langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Salah satunya dengan menekan pengeluaran negara dan memprioritaskan belanja pada kebutuhan dasar masyarakat.

"Belanja pemerintah harus difokuskan hanya untuk kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan," tutur Ibrahim.

Selain itu, ia juga mendorong percepatan program pengurangan konsumsi minyak melalui pengembangan energi baru dan terbarukan seperti tenaga surya, air, dan angin.

Langkah lain yang dinilai penting adalah memperkuat stimulus ekonomi lewat deregulasi agar aktivitas usaha lebih mudah berkembang.

"Begitu juga perlu debirokratisasi, birokrasi yang berbelit sehingga menyulitkan dunia usaha dapat disederhanakan," lanjut dia.

Untuk perdagangan Selasa (10/3), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan cukup fluktuatif dan berpotensi bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka