AS Kecewa atas Serangan Israel ke Depot Bahan Bakar Iran

waktu baca 3 menit

Istanbul (KABARIN) - Amerika Serikat dilaporkan tidak sepenuhnya puas dengan aksi militer Israel yang menyerang sejumlah depot bahan bakar di Iran pada akhir pekan lalu. Laporan dari Axios menyebut ketegangan ini menjadi perbedaan pandangan yang cukup terlihat antara dua sekutu tersebut sejak konflik dengan Iran mulai memanas.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa serangan udara yang terjadi pada Sabtu menyasar sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran. Jumlah target ini disebut lebih besar dari perkiraan pejabat Amerika setelah Israel sebelumnya memberi informasi mengenai rencana operasi tersebut.

Akibat serangan itu, kebakaran besar dilaporkan terjadi di Teheran. Asap tebal terlihat membumbung dari area tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri di ibu kota Iran.

Militer Israel menyatakan fasilitas yang diserang digunakan pemerintah Iran untuk mendistribusikan bahan bakar ke berbagai pihak, termasuk unit militer mereka.

Pejabat Amerika mengatakan bahwa Israel memang sudah memberi tahu militer AS sebelum operasi berlangsung. Namun Washington tetap terkejut dengan skala serangan yang dilakukan.

“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata seorang penasihat Presiden AS Donald Trump.

Menurut pejabat AS, serangan terhadap infrastruktur yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat bisa memunculkan dampak yang tidak diinginkan. Alih alih melemahkan Iran, tindakan tersebut justru bisa meningkatkan dukungan publik terhadap pemerintah Iran sekaligus memicu lonjakan harga minyak dunia.

“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS tersebut.

Meski fasilitas yang diserang bukan lokasi produksi minyak, Washington tetap khawatir rekaman kebakaran depot bahan bakar yang tersebar luas dapat membuat pasar energi global menjadi tidak stabil.

Dari pihak Iran, peringatan keras juga mulai disampaikan. Juru bicara Markas Khatam al Anbiya yang mengawasi operasi militer mengatakan Iran bisa membalas dengan serangan serupa jika serangan terhadap fasilitas energi terus berlanjut.

Ia menyebut sejauh ini Iran masih menahan diri untuk tidak menargetkan infrastruktur energi di kawasan. Namun jika langkah itu diambil, harga minyak global disebut bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyatakan negaranya siap memberikan balasan cepat apabila serangan terhadap infrastruktur penting terus terjadi.

Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan melukai lebih dari 10.000 orang lainnya.

Sebagai respons, Iran kemudian meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel, Irak, Yordania, serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika.

Sumber: Anadolu_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka