Jakarta (KABARIN) - Masalah kesehatan mental di kalangan pelajar mulai menjadi perhatian serius. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pemerintah untuk memperkuat upaya deteksi dini gangguan kesehatan mental pada siswa, terutama di lingkungan sekolah.
Menurut Lestari, langkah ini penting agar masalah kesehatan jiwa pada generasi muda bisa diketahui lebih cepat dan ditangani sebelum menjadi lebih serius.
"Langkah kolaborasi sejumlah pihak terkait untuk mengatasi secara menyeluruh ancaman kesehatan jiwa siswa di sekolah harus mendapat dukungan bersama," kata Lestari dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa.
Dorongan ini sejalan dengan langkah pemerintah yang sebelumnya disampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Pada Senin (9/3), Budi mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk meningkatkan deteksi dini masalah kesehatan mental di sekolah.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah membekali guru dengan kemampuan mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada siswa.
Lestari menilai langkah tersebut sangat penting karena guru merupakan pihak yang setiap hari berinteraksi langsung dengan para siswa di sekolah. Dengan pengetahuan yang cukup, guru diharapkan bisa lebih cepat mengenali perubahan perilaku atau gejala awal gangguan mental pada peserta didik.
Jika deteksi dilakukan sejak awal, guru juga dapat segera menindaklanjuti temuan tersebut agar siswa mendapatkan penanganan yang tepat.
Data yang dimiliki Lestari dari survei Kementerian Kesehatan pada awal 2026 menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja tidak bisa dianggap sepele. Tercatat sekitar 5 persen anak dan remaja di Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama yang berkaitan dengan depresi dan kecemasan.
Lebih rinci lagi, sekitar 34,9 persen remaja usia 10 hingga 17 tahun berada dalam kelompok berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Sayangnya, dari jumlah tersebut hanya 2,6 persen yang mendapatkan penanganan profesional.
Melihat angka tersebut, Lestari menilai kemampuan deteksi dini tidak hanya penting bagi guru, tetapi juga bagi orang tua.
Menurutnya, guru memang menjadi garda terdepan dalam memantau kondisi siswa di sekolah. Namun peran orang tua tetap sangat penting karena mereka berinteraksi langsung dengan anak di lingkungan keluarga setiap hari.
Karena itu, Lestari menilai peningkatan kemampuan guru dan orang tua dalam mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental harus menjadi bagian penting dari upaya melindungi generasi muda.
Dengan deteksi yang lebih cepat, setiap tanda gangguan kesehatan mental yang muncul pada anak, baik di sekolah maupun di rumah, dapat segera ditangani sehingga tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius di kemudian hari.
Sumber: ANTARA