Beruang Madu Kembali Dilepas ke Gunung Tarak Usai Sembuh dari Jerat

waktu baca 3 menit

Azim dilepaskan setelah Selasa (10/3/2026) setelah melalui proses penyelamatan, perawatan, dan rehabilitasi intensif akibat terjerat oleh pemburu

Pontianak (KABARIN) - Seekor beruang madu jantan bernama Azim akhirnya kembali ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Tarak, Kalimantan Barat. Satwa liar tersebut dilepasliarkan setelah melalui proses penyelamatan dan rehabilitasi panjang akibat jeratan pemburu.

Pelepasliaran Azim dilakukan oleh tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

"Azim dilepaskan setelah Selasa (10/3/2026) setelah melalui proses penyelamatan, perawatan, dan rehabilitasi intensif akibat terjerat oleh pemburu. Azim pertama kali terdeteksi melalui kamera jebak yang dipasang tim YIARI pada November 2024 untuk memantau keanekaragaman hayati di Hutan Lindung Gunung Tarak dan rekaman tersebut menunjukkan beruang tersebut mengalami jeratan pada kaki depan kanannya sehingga tampak pincang saat berjalan," kata Direktur Operasional dan Program YIARI Argitoe Ranting di Pontianak, Kamis.

Perjalanan penyelamatan Azim tidak singkat. Tim konservasi membutuhkan waktu lebih dari tujuh bulan untuk melacak keberadaannya di hutan. Setelah berbagai upaya pencarian, Azim akhirnya berhasil ditangkap menggunakan kandang jebak pada 27 Juni 2025.

Begitu berhasil diamankan, tim medis dari YIARI bersama petugas BKSDA Kalimantan Barat langsung melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap beruang tersebut.

Dokter hewan YIARI Ishma Maula mengungkapkan kondisi Azim saat ditemukan sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mengalami infeksi serius akibat luka dari jerat.

Menurutnya, tanpa pertolongan cepat dari tim penyelamat, kemungkinan besar Azim tidak akan bertahan hidup.

Selama berada di klinik rehabilitasi YIARI, Azim menjalani perawatan intensif selama berbulan-bulan. Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan tulang kaki yang terkena jerat mengalami deformasi. Bahkan beberapa jari pada kaki tersebut terpaksa diamputasi demi menyelamatkan kondisinya.

Meski kakinya tidak bisa pulih sepenuhnya seperti semula, kondisi fisik Azim perlahan membaik setelah menjalani perawatan panjang. Tim akhirnya memutuskan bahwa beruang tersebut sudah cukup kuat untuk kembali hidup di alam liar.

Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan kisah Azim menjadi pengingat penting tentang ancaman nyata yang masih dihadapi satwa liar di Indonesia.

"Pelepasliaran Azim bukan hanya penyelamatan individu satwa, tetapi juga pengingat pentingnya perlindungan habitat dan pencegahan ancaman bagi satwa liar," tuturnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala KPH Ketapang Selatan Nursiah menilai kasus Azim menunjukkan bahwa jerat pemburu masih menjadi ancaman serius bagi berbagai satwa liar, termasuk spesies yang dilindungi.

Menurutnya, keberhasilan penyelamatan Azim juga membuktikan pentingnya kerja sama berbagai pihak dalam upaya konservasi.

Ia menambahkan Hutan Gunung Tarak memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi sehingga perlu terus dijaga kelestariannya.

Selain itu, KPH juga memiliki peran penting dalam menjaga kawasan hutan melalui patroli rutin, pemantauan keanekaragaman hayati, pengawasan aktivitas ilegal, hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.

"Pelepasliaran Azim adalah simbol keberhasilan konservasi yang menegaskan bahwa upaya melindungi satwa liar dan habitatnya harus berkelanjutan," katanya.

Kembalinya Azim ke hutan menjadi momen penting bagi upaya konservasi satwa liar di Kalimantan Barat. Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian alam bukan hanya soal melindungi satwa, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem bagi kehidupan di masa depan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka