Washington (KABARIN) - Pemerintah Amerika Serikat bersama Israel dikabarkan menghentikan sementara penetapan dua pejabat tinggi Iran sebagai target di tengah dinamika komunikasi dengan Teheran.
Dua nama yang dimaksud adalah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Laporan media Amerika menyebut langkah ini hanya berlaku dalam waktu singkat.
Informasi tersebut muncul setelah adanya klaim dari Donald Trump yang menyebut komunikasi antara Washington dan Teheran berjalan cukup positif. Kondisi itu membuat rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran ditunda untuk sementara waktu sambil menunggu perkembangan dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, pihak Iran memberikan respons berbeda. Melalui kementerian luar negerinya, Teheran membantah adanya pembicaraan langsung, dan menyebut hanya menerima pesan terkait keinginan Amerika Serikat untuk membuka dialog.
Situasi ini terjadi di tengah konflik yang masih memanas sejak serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah di Iran pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut memicu kerusakan besar dan korban jiwa, termasuk dari kalangan sipil.
Iran kemudian melakukan serangan balasan ke wilayah Israel serta target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk respons atas aksi tersebut.
Operasi militer itu sebelumnya disebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, pernyataan lanjutan dari pihak Amerika Serikat dan Israel juga menyinggung soal keinginan adanya perubahan kekuasaan di Iran.
Di tengah eskalasi tersebut, Vladimir Putin turut angkat bicara dan menilai serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Pemerintah Rusia juga mendesak agar ketegangan segera diredakan dan semua pihak menghentikan konflik demi mencegah dampak yang lebih luas.
Sumber: Sputnik_OANA