Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis anak Rini Sekartini mengingatkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan pada anak usia balita dapat berdampak pada kemampuan berbicara dan interaksi sosial mereka.
Menurut ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut, dalam praktik sehari hari sering ditemukan anak dengan keterlambatan bicara yang berkaitan dengan intensitas penggunaan gawai sejak dini.
"Yang sering terjadi adanya keterlambatan bicara dan kesulitan sosialisasi dengan teman sebaya," kata Rini.
Ia menjelaskan masa balita merupakan fase penting dalam perkembangan bahasa dan kemampuan bersosialisasi. Pada tahap ini, anak membutuhkan interaksi langsung dan komunikasi dua arah dengan orang tua maupun lingkungan sekitar.
Namun, kebutuhan tersebut bisa terganggu jika anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai tanpa pendampingan.
"Tidak ada stimulasi dua arah dengan penggunaan gawai. Anak hanya mengulang yang didengar, suara atau kata-katanya," kata Prof. Rini.
Ia menambahkan anak yang terlalu sering terpapar gawai cenderung hanya meniru tanpa memahami konteks. Hal ini membuat perkembangan bahasa tidak berjalan optimal.
Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya pada kemampuan bicara, tetapi juga bisa memengaruhi kemampuan belajar dan interaksi sosial anak.
"Ya bisa," kata Prof. Rini.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mendukung kebijakan pemerintah dalam membatasi akses anak terhadap platform digital berisiko tinggi.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.
Melalui aturan ini, pemerintah secara bertahap membatasi penggunaan platform digital tertentu bagi anak di bawah usia 16 tahun guna mengurangi risiko paparan konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga tumbuh kembang anak agar tetap optimal di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Sumber: ANTARA