Jakarta (KABARIN) - Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 27 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, dengan total serapan anggaran mencapai Rp60 triliun.
"Alhamdulillah sekarang sudah menyebar di seluruh Indonesia, dan hari ini sudah menyerap anggaran Rp60 triliun dimana anggaran itu seluruhnya sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah," ujar Kepala BGN Dadan Hindayana dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Dalam pemaparannya pada kegiatan retret ketua DPRD se-Indonesia di Magelang, Sabtu (18/4), Dadan menjelaskan bahwa program tersebut dilatarbelakangi perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap tingginya pertumbuhan penduduk yang perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan Presiden, karena Indonesia masih tumbuh enam orang per menit, tiga juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta tahun 2045, dan sekarang permasalahannya bukan pertumbuhannya, tetapi dari mana pertumbuhan itu berasal," katanya.
Ia menyoroti rata-rata lama pendidikan masyarakat Indonesia yang masih sekitar sembilan tahun, yang berdampak pada rendahnya akses anak terhadap asupan gizi seimbang.
"Jadi anak-anak Indonesia itu, dewasa ini banyak lahir dari orang tua yang pendidikannya hanya lulusan SD, sehingga, tidak heran kalau 60 persen anak tidak punya akses terhadap makan bergizi seimbang, 60 persen anak itu jarang minum susu bahkan tidak mampu minum susu," paparnya.
Melalui program MBG, pemerintah melakukan intervensi pada dua fase krusial, yakni 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan perkembangan kecerdasan, serta usia sekolah yang berperan dalam pertumbuhan fisik optimal.
Dadan menambahkan, program ini diharapkan mampu menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kecerdasan generasi mendatang.
"Kita harapkan dengan program ini stuntingnya bisa dicegah, karena rata-rata IQ Indonesia sekarang 78. Maka, dengan hadirnya program ini, kami berharap nanti 10 hingga 15 tahun ke depan yang lahir hari ini dan akan jadi tenaga kerja produktif, itu sudah tidak stunting, serta tinggi badannya naik karena kita intervensi dari sekarang," tuturnya.
Sumber: ANTARA