Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, Kadin Sebut Program Pemerintah Mulai Terasa Dampaknya

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Kamar Dagang dan Industri Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen menunjukkan hasil nyata dari berbagai kebijakan pemerintah yang mulai berjalan efektif.

Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai program-program yang dijalankan sejak awal 2025 kini mulai memberikan dampak ke aktivitas ekonomi.

“Kami mengapresiasi kinerja pemerintah. Program pemerintah yang diterapkan sejak awal 2025 mulai menunjukkan hasil tahun ini,” ujar Anindya.

Menurutnya, pertumbuhan ini didorong oleh percepatan belanja negara, program makan bergizi gratis yang berjalan luas, pembangunan jutaan rumah, hingga berbagai program prioritas lain yang ikut menggerakkan ekonomi.

Selain itu, aktivitas investasi yang mulai meningkat sejak awal tahun juga menjadi faktor penting penopang pertumbuhan. Di tengah situasi global yang masih penuh tantangan, capaian ini bahkan disebut sebagai salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20.

“Ini adalah prestasi membanggakan,” ungkapnya.

Kadin melihat struktur pertumbuhan ekonomi kini mulai lebih seimbang, tidak hanya bergantung pada konsumsi domestik, tetapi juga didukung ekspor yang mulai terbuka serta arus investasi yang makin meluas hingga ke daerah.

“Belakangan ini, kita berhasil membuka pasar ekspor baru. Walaupun baru mulai, sudah terlihat dampaknya, termasuk terhadap investasi yang masuk,” ujarnya.

Tren investasi juga dinilai semakin positif karena tidak hanya didominasi proyek besar, tetapi mulai merambah ke investasi skala menengah yang berpotensi mendorong ekonomi daerah.

“Ke depan tinggal bagaimana diskusi dengan pemerintah daerah agar investasi di daerah bisa ditingkatkan dan daerah ikut maju. Pertumbuhan ekonomi harus juga terjadi daerah,” kata Anindya.

Dari sisi perdagangan, kinerja Indonesia juga menunjukkan tren positif. Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar 3,32 miliar dolar AS pada Maret 2026, melanjutkan tren surplus yang sudah berlangsung sejak Mei 2020.

Sementara itu, realisasi investasi pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan, dengan sektor hilirisasi menjadi salah satu penyumbang utama.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi didorong oleh belanja pemerintah yang naik signifikan, investasi yang tetap tumbuh, serta konsumsi rumah tangga yang stabil.

Kadin menekankan pentingnya menjaga momentum ini lewat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah agar pertumbuhan tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga merata ke seluruh wilayah.

“Pertumbuhan tidak boleh hanya terjadi di pusat. Daerah harus menjadi sumber pertumbuhan baru,” ucap Anindya.

Ke depan, Kadin juga mendorong peningkatan dana transfer ke daerah guna memperkuat ekonomi lokal, terutama bagi pelaku UMKM.

“Ini mencerminkan efek pengganda (multiplier effect) yang sangat kuat terhadap perekonomian domestik,” jelas Anindya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka