Istanbul (KABARIN) - Arab Saudi membantah telah memberikan izin penggunaan wilayah udaranya untuk operasi militer ofensif di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Stasiun TV Al Arabiya, mengutip sumber, melaporkan bahwa Riyadh justru berupaya meredakan eskalasi konflik serta mendukung upaya mediasi Pakistan untuk mendorong tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
"Kerajaan tidak mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk mendukung operasi militer ofensif. Ada pihak-pihak yang mencoba memberikan gambaran yang menyesatkan tentang posisi Arab Saudi karena alasan yang mencurigakan," kata sumber tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah laporan The Wall Street Journal pada Kamis (7/5) yang menyebut Arab Saudi dan Kuwait disebut telah mencabut pembatasan penggunaan pangkalan dan wilayah udara oleh militer Amerika, yang sebelumnya diberlakukan setelah operasi AS terkait Selat Hormuz.
Dalam laporan itu juga disebutkan pemerintah Amerika Serikat bersiap melanjutkan kembali operasi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz dengan dukungan militer udara dan laut, setelah sempat dihentikan sementara.
Ketegangan kawasan sendiri meningkat sejak serangkaian serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari yang memicu aksi balasan dan gangguan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Amerika kemudian mengumumkan gencatan senjata mulai 8 April, disertai proses negosiasi yang dimediasi Pakistan, meski belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Donald Trump juga menyebut adanya perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu jelas, namun tetap mempertahankan operasi blokade maritim di kawasan tersebut sejak pertengahan April.
Sumber: ANAD